Paradoks Ramadhan
PARADOKS RAMADHAN: MEMINTA DUNIA DI ATAS HAMPARAN KARUNIA AKHIRAT
Oleh: Muhammad Rajib
(Mahasiswa Doktor Ilmu Syari’ah UIN Sunan Kalijaga)
Ramadhan sering dipahami sebagai bulan doa, bulan ketika pintu-pintu langit terbuka dan setiap permohonan dipanjatkan dengan penuh harap. Dalam suasana ibadah yang khusyuk, orang-orang berdoa meminta kelapangan rezeki, kemudahan urusan, hingga keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan dunia. Hal ini menunjukkan adanya keyakinan yang kuat bahwa berdo’a di bulan Ramadan mudah untuk dikabulkan. Namun di balik itu, ada hal yang jarang disadari yaitu permintaan kita sering lebih fokus pada urusan materi, sementara sisi spiritual yang justru menjadi inti dan tujuan utama Ramadhan sering tidak menjadi perhatian utama.
Tulisan ini berupaya menegaskan bahwa ibadah itu sendiri merupakan bentuk rezeki tertinggi yang sering terabaikan dalam orientasi doa di bulan Ramadan. Saat tangan menengadah memohon tambahan rezeki, sesungguhnya kesempatan untuk beribadah, kekhusyukan dalam sujud, serta kemampuan untuk mendekat kepada Allah SWT merupakan bentuk karunia yang sedang dinikmati. Ramadhan bukan sekadar momentum untuk meminta, tetapi ruang kontemplasi untuk menyadari bahwa ibadah adalah rezeki yang paling mendasar dan paling menentukan arah akhir kehidupan manusia.
Paradoks Doa: Meminta Rezeki, Melupakan Hakikatnya
Dalam setiap momentum spiritual, terdapat paradoks yang seringkali jarang disadari seorang muslim yaitu kesibukan meminta “dunia” berlangsung di tengah proses ibadah, padahal kemampuan beribadah itu sendiri merupakan anugerah dari Allah SWT. Kelancaran usaha dan kelapangan harta dimohonkan seakan - akan rezeki hanya sebatas angka yang dapat dihitung.
Allah SWT telah menegaskan jaminan rezeki bagi setiap makhluk dalam Al-Qur’an (QS. Hud : 6)
وَمَا مِن دَاۤبَّةࣲ فِی ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَیَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلࣱّ فِی كِتَـٰبࣲ مُّبِینࣲ
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
Ayat tersebut menegaskan jaminan keberadaan dan pemenuhan kebutuhan dasar makhluk hidup. Rezeki dalam bentuk materi bersifat umum dan menyeluruh; semuanya berada dalam ketetapan Allah SWT namun jaminan itu tidak otomatis menjamin kualitas ruhani seseorang. Kesehatan untuk bersujud, waktu untuk memahami Al-Qur’an, serta kelapangan hati untuk khusyuk adalah rezeki yang khusus dan sangat mendasar nilainya. Jika rezeki materi menjamin kelangsungan tubuh, maka rezeki ibadah menjamin keselamatan jiwa. Pada akhirnya, segala sarana yang mengantarkan manusia kepada penghambaan (‘ubudiyyah) kepada Allah SWT adalah inti dari keberlimpahan yang sesungguhnya.
Ibadah sebagai Taufiq: Karunia yang Terabaikan
Ibadah sering dipahami hanya sebagai kewajiban yang dijalankan secara rutin dan formal. Padahal dalam pandangan teologi Islam, ibadah adalah bentuk taufik, yaitu perpaduan antara keinginan hamba dan pertolongan Allah SWT tidak semua orang diberi kemudahan untuk bangun di sepertiga malam. Tidak setiap hati tergerak untuk melangkah ke masjid. Tidak semua jiwa mampu merasakan manisnya membaca Al-Qur’an. Kemampuan untuk beribadah adalah tanda adanya pilihan dan pertolongan dari Allah kepada hamba-Nya.
Rasulullah Saw. meluruskan makna kekayaan melalui sabdanya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menolak pemahaman bahwa rezeki hanya berarti kumpulan harta benda. Kekayaan yang sebenarnya adalah kecukupan hati (qana’ah), yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Dalam hal ini, hati yang taat, sadar untuk bertaubat, dan dekat kepada Allah SWT adalah “aset akhirat” yang jauh lebih berharga daripada angka-angka materi. Bahkan doa yang diajarkan Nabi Saw, Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, “Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.” menunjukkan bahwa kualitas ibadah adalah rezeki yang perlu diminta kepada Allah SWT bukan hanya dijalankan begitu saja.
Reorientasi Doa: Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah
Dalam kerangka Maqasid al-Syariah, menjaga agama (hifz al-din) menempati posisi utama dan termasuk kebutuhan paling mendasar (daruriyyat). Adapun menjaga harta (hifz al-mal) juga penting, tetapi secara urutan berada di bawahnya. Harta berfungsi untuk mendukung dan menjaga keberlangsungan agama, bukan untuk menggantikan atau mengalahkannya. Dengan kata lain, materi adalah sarana (wasilah), bukan tujuan akhir (ghayah).
Orientasi doa yang hanya berfokus pada penambahan harta bisa menggeser prioritas tujuan utama syariat tersebut. Ramadhan seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki arah doa kita bukan hanya meminta rezeki dalam bentuk uang atau kekayaan, tetapi juga memohon hati yang lapang untuk taat dan konsisten dalam beribadah. Bisa jadi saat saldo rekening belum bertambah, tetapi kualitas sujud justru semakin baik itulah rezeki yang abadi, yang termasuk dalam amal kebaikan yang kekal (al-baqiyat al-salihat).
Meminta urusan dunia saat beribadah adalah hal yang wajar. Namun kesadaran iman mengajarkan bahwa ibadah itu sendiri adalah karunia yang sangat besar sebuah jembatan yang menghubungkan kehidupan sementara ini dengan tujuan penciptaan yang kekal.Selama seorang muslim masih diberi kemampuan untuk bersujud, masih bisa menangis dalam doa, dan masih memiliki rasa rindu kepada Allah SWT sebenarnya ia sedang berada dalam keadaan yang sangat kaya. Sebab rezeki terbesar bukanlah sesuatu yang menambah harta atau kepemilikan, tetapi sesuatu yang mendekatkannya kepada tujuan hidup dan menyelamatkannya di akhirat kelak. Demikian semoga ada manfaatnya.Wallahu a’lam.