Standar Kebaikan Seorang Hamba

STANDAR KEBAIKAN SEORANG HAMBA

Oleh: Dr. Ali Sodiqin, M.Ag

Allah SWT menciptakan kehidupan ini berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada laki-laki dan ada perempuan, ada langit dan bumi, ada nikmat dan juga ada musibah. Keadaan berpasangan tersebut merupakan symbol kesatuan yang menunjukkan adanya kebaikan diantara keduanya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa keadaan yang satu baik dan keadaan yang lain tidak baik. Semua keadaan yang berpasangan itu mengandung dan memiliki kebaikan di dalamnya, karena semuanya diciptakan oleh Yang Maha Baik, yaitu Allah Rabbal Alamiin.

Demikian juga dengan pasangan nikmat dan musibah, keduanya bersumber dari Allah. Oleh karena di dalam nikmat dan musibah harus kita yakini mengandung kebaikan. Menghindari keduanya adalah tidak mungkin, karena semua sudah ketentuan Allah. Maka sikap yang tepat adalah menerimanya, dengan lapang dada, dengan penuh tawakkal. Caranya adalah menggunakan standar Allah bukan standar kita sebagai hamba. Sebagai hamba, kita tentu selalu berharap nikmat dan dijauhkan dari musibah, karena menurut pikiran kita, nikmat adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengandung kebaikan. Dan sebaliknya, kita selalu merasa bahwa musibah adalah sesuatu yang memilukan dan mengandung keburukan bagi kehidupan kita.

Oleh karena itu kita perlu merenungi firman Allahdalam Surat Al Baqarah ayat 216:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Secara tegas Allah mengingatkan kepada hambaNya, bahwa tidak semua yang kita senangi itu baik bagi kita, dan jga tidak semua yang kita benci itu buruk bagi kita. Ini adalah pertanda agar kita jangan menggunakan standar akal dan perasaan kita dalam menyikapi keadaan yang terjadi. Di akhir ayat Allah menegaskan bahwa Allahlah yang Maha Tahu, dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Maka, dari ayat ini, kita perlu menanamkan dua sikap, yaitu husnuz zon dan tawakkal kepada takdir Allah.

Sikap husnuz zhon kepada takdir Allah dimaknai dengan selalu berprasangka baik terhadap semua kejadian yang menimpa diri kita. Tugas kita sebagai makhluk adalah menjalankan takdir Allah dengan lapang dada. Kita tidak perlu memikirkan sesuatu yang sudah dipastikan oleh Pencipta kita. Kewajiban kita adalah menjadi makhluk yang baik, yang taat kepada Allah (‘abdullah) dan berbuat baik kepada makhlukNya.

Nikmat dan musibah adalah sesuatu yang pasti, hanya kita tidak tahu kapan datangnya. Keyakinan akan kepastian itu harus melahirkan keyakinan bahwa pasti ada kebaikan di dalamnya. Jika dalam nikmat ada kebaikan, maka dalam musbahpun pasti ada kebaikan. Kalau pada saat ini kita belum mampu menemukan kebaikan tersebut, maka itu karena terbatasnya pengetahuan kita. Maka sikap husnuz zhan kepada takdir Allah adalah sikap yang cerdas menghadapi segala situasi. Hidup kita tidak ditentukan oleh nikmat atau musibah, tetapi ditentukan oleh kadar keyakinan kita terhadap adanya kebaikan di dalamnya.

Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW.

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم ، رقم2675

”Sesungguhnya Allah berfirman, “Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”(HR Bukhari dan Muslim).

Jika kita bisa menganggap nikmat sebagai sebuah kebaikan, maka kita juga harus bisa menganggap musibah sebagai kebaikan. Husnuz zhon harus menjadi kacamata kita dalam memandang kehidupan. Dengan begitu hidup kita akan istiqamah dalam keimanan, karena menganggap semua yang kita alami sebagai rahmat Allah, tanpa kita mempedulikan apakah itu berbentuk nikmat atau musibah. Sikap husnuz zon juga akan membentuk karakter kemanusiaan kita, karena tidak mudah menyalahkan orang lain atau keadaan sebagai penyebab kondisi yang kita alami.

Sikap kedua yang perlu kita amalkan adalah sikap tawakkal. Tawakkal adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Sikap tawakkal dapat tumbuh jika kita memiliki sikap husnuz zon kepada takdir Allah. Keyakinan adanya kebaikan di setiap nikmat dan musibah, membuat kita menjalani hidup dengan ringan, tidak ada beban, karena semuanya sudah ditakdirkan Allah. Hidup kita hanya focus untuk selalu dalam ketaatan dan kebaikan, tanpa mempedulikan sikap atau respon orang lain terhadap kita. Di dalam Surat At Talaq ayat 3 Allah berfirman:

ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Ukuran kebaikan dan keburukan seorang hamba itu hanya Allah yang tahu, karena Allah adalah Sang Pencipta. Hal ini membuktikan keterbatasan seorang manusia dalam menilai dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Seringkali manusia mengukur baiknya sesuatu berdasarkan apa yang menyenangkan hatinya. Demikian juga sebaliknya, manusia menganggap buruknya sesuatu karena tidak menyenangkan hatinya. Maka ketika dia mendapatkan sesuatu nikmat dia menganggapnya kebaikan, dan ketika dia mendapatkan musibah maka dia menganggapnya keburukan. Dari sinilah manusia memberikan penilaian bahwa nikmat itu identic dengan kebaikan dan musibah itu identic dengan keburukan. Padahal kita tahu, bahwa ada kenikmatan yang berpotensi menjadi istidraj, dan juga ada musibah yang berkedudukan sebagai penghapus dosa. Oleh karena itu jangan bangga dengan banyaknya nikmat dan juga jangan sedih dengan banyaknya musibah.

Demikian juga kita tidak boleh menganggap bahwa orang yang terkena musibah sebagai orang yang buruk. Sebagaimana banyak dikisahkan dalam Alquran, bahwa Allah menimpakan ujian berupa musibah kepada para Nabi dan orang-orang salih. Ini adalah bukti bahwa sebuah musibah yang dalam pandangan manusia tidak menyenangkan, padahal itu adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Maka, disinilah konsep tawakkal itu menjadi penting, sebagai pengingat kita saat mendapatkan nikmat maupun musibah. Dengan sikap tawakkal kita tidak akan mudah terlena saat mendapatkan nikmat dan juga tidak berputus asa ketika mendapatkan musibah.

Oleh karena itu, kita harus mengubah mindset kita dalam memahami nikmat dan musibah. Keduanya harus diyakini bersumber dari Allah, keduanya harus diimani mengandung kebaikan bagi diri kita, dan keduanya merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler