Kerusakan alam dan Kerusakan Sosial

KERUSAKAN ALAM DAN ANALOGINYA DENGAN KERUSAKAN SOSIAL

Dr. Ali Sodiqin, M.Ag

(Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga)

Ada hal penting yang harus selalu kita lakukan, yaitu mengingatkan diri kita sendiri tentang hakikat kemakhlukan sekaligus kemanusiaan kita. Kita harus selalu menyadari bahwa kedudukan kita di dunia ini adalah sebagai makhluk sekaligus sebagai manusia. Kesadaran tersebut akan mengingatkan bahwa kita memiliki kewajiban yang harus kita tunaikan disamping memiliki kelemahan dan keterbatasan yang harus kita akui.

Allah menciptakan kita untuk menjadi khalifah di bumi ini, dengan kewajiban menjaga, memelihara serta memastikan keberlangsungan alam semesta bagi generasi selanjutnya. Alam semesta ini adalah amanah, yang jika kita mampu menunaikannya kita akan mendapatkan keuntungan tetapi jika kita tidak mampu menunaikannya akan menghasilkan kerugian. Kerugian tersebut bukan hanya pada diri kita tetapi juga dapat berimbas kepada orang lain. Keuntungan yang dimaksud adalah keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan hidup, sedangkan kerugian yang dimaksud adalah kerusakan, bencana dan penderitaan. Dari sinilah kita semua perlu berhati hati agar kita menjadi sumber keuntungan bukan menjadi sumber kerugian bagi alam semesta ini.

Di dalam surat Ar Rum ayat 41, Allah berfirman:

ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت ايدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

“telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”

Ayat ini menjelaskan tiga hal; pertama, bahwa manusia (melalui perbuatannya) adalah penyebab terjadi kerusakan alam. Ini menghasilkan pentingnya sikap evaluasi diri setiap kali terjadi bencana, bukan menyalahkan pihak lain sebagai penyebabnya. Kedua, kerusakan alam (yang berbentuk bencana alam) terjadi agar manusia mengetahui dan merasakan sebagian akibat dari perbuatannya. Ini adalah pelajaran tentang sikap bertanggung jawab, bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Apa yang kita panen hari ini tergantung dari apa yang kita tanam hari kemarin. Ketiga, adanya bencana alam tersebut adalah kehendak Allah agar manusia memperbaiki perbuatannya (kembali ke jalan yang benar). Ini mengharuskan kesegeraan untuk melakukan perbaikan diri sebelum penderitaan yang lebih besar datang lagi.

Ayat di atas berbicara tentang kerusakan alam, yang sejatinya dapat dianalogikan dengan kerusakan sosial. Realitas yang dihadapi masyarakat saat ini bukan sekedar banyaknya bencana alam, tetapi juga maraknya bencana sosial yang mengakibatkan terjadinya pertentangan, permusuhan hingga konflik sosial.

Sahabat Abu bakar as Shiddiq menganalogikan kerusakan alam dengan kerusakan sosial. Beliau mennafsirkan Surat Ar Rum ayat 41:

البر هو اللسان والبحر هو القلب. فاءذا فسد اللسان بكت عليه النفوس, واذا فسد القلب بكت عليه الملائكة

“daratan yang dimaksud adalah lisan dan laut yang dimaksud adalah hati. Jika lisan manusia rusak maka menangislah manusia yang lainnya, dan jika hati yang rusak maka menangislah para malaikat”

Kerusakan sosial diakibatkan oleh lisan dan hati yang rusak. Rusaknya lisan ditandai dengan maraknya manusia yang saling mencela, memfitnah, bahkan menzalimi manusia yang lain. Kerusakan lisan sangat berbahaya bagi kehidupan sosial, karena bisa memecah bahkan menimbulkan permusuhan antara anggota masyarakat. Oleh karena itu Rasulullah mengingatkan umatnya untuk berhati hati menjaga lisannya, sebagaimana perintahnya untuk selalu berkata baik dan lebih baik diam jika tidak mampu (falyaqul khairan awil yasmut), mengaitkan keimanan dengan penjagaan lisan (al muslimu man salimal muslimuuna min lisanihi wa yadihi), menjaga lisan adalah pangkal keselamatan (salamatul insan fi hifdzil lisan). Orang orang tua kita juga mengajarkan melalui falsafah hidup ajining diri gumantung ing lathi. Semua itu menunjukkan bahwa keberadaan lisan dapat menentukan terjadinya kemaslahatan atau kerusakan sosial.

Ketika lisan seseorang rusak (suka mencela, mencaci maki, suka memfitnah, menyebarkan berita bohong) maka yang menjadi korbannya adalah manusia lain. Dan jika kerusakan itu dilakukan oleh sekelompok masyarakat terhadap sekelompok masyarakat lain maka kerusakan yang ditimbulkan akan lebih luas. Inilah mengapa sahabat Abu Bakar as siddiq menyamakan bahaya kerusakan lisan sama dengan kerusakan di daratan.

Penyebab kerusakan sosial yang kedua adalah rusaknya hati, yang diibaratkan dengan kerusakan lautan. Bahaya rusaknya hati jauh lebih besar daripada rusaknya lisan, sehingga akibat yang ditimbulkan bukan hanya manusia yang menangis tapi malaikatpun ikut menangis. Kerusakan hati ditandai dengan hadirnya penyakit penyakit hati dalam diri manusia, seperti riya, hasad, takabur, kufur dan sebagainya. Jika penyakit penyakit hati ini bersarang dalam diri seseorang maka tidak hanya lisannya yang berbahaya tetapi seluruh organ tubuhnya berbahaya karena dapat menimbulkan kerusakan bagi orang lain. Rasulullah mengingatkan kita dalam sabdanya;

الا ان في الجسد مضغة, اذا صلحت صلح الجسد كله, واذا فسدت فسد الجسد كله, الا وهي القلب

“ketahuliah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh itu, dan jika dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah bahwa segumpal darah tersebut adalah hati”.

Sikap riya akan memanipulasi perbuatan seseorang sekaligus menghasilkan tindak penipuan. Jika dia riya dalam beribadah maka hasilnya adalah ketidakikhlasan, sedangkan jika dia riya dalam bersosial, maka hasilnya adalah motif kepentingan dengan berkedok agama. Dari sinilah kita memahami betapa bahayanya orang yang memiliki sifat riya, sehingga sifat ini dimasukkan dalam kategori musrik yang paling halus.

Hal yang sama bahayanya adalah sikap iri dengki atau hasad. Sikap yang pertama kali dimiliki oleh syaitan dan menyebabkannya dikeluarkan dari surga, juga berakibat fatal dalam hubungan sosial. Berbagai tindak kejahatan seperti pencurian, korupsi, hingga pembunuhan disebabkan oleh adanya sifat hasud dalam diri seseorang. Sikap ini akan menghasilkan perbuatan menghalalkan segala cara dan menempatkan hawa nafsu sebagai panglima kehidupannya.

Kerusakan lisan bersumber dari kerusakan hati, dan kerusakan keduanya mengakibatkan kerusakan sosial, yaitu hilangnya kerukunan, ketenteraman dan kedamaian dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu cara menghilangkannya adalah dengan tazkiyatun nafsi, mensucikan hati dan jiwa. Para ulama mengajarkan cara mensucikan hati dengan tiga tahapan yaitu takhalli, tahalli dan tajalli. Takhalli adalah membuang sifat sifat tercela dari dalam diri kita dengan memperbanyak ibadah, zikir dan amal salih. Tahalli dilakukan dengan menghiasi diri dengan sifat sifat terpuji, dari riya menjadi ikhlas, dari hasad menjadi qana’ah, dari takabur menjadi tawadhu’ dan dari kufur menjadi syukur. Tahap terakhir adalah tajalli, yaitu menerapkan sifat terpuji dalam kehidupan sehari hari, dengan menampakkan akhlakul karimah, akhlak yang mulia. Rasulullah diutus ke dunia ini tidak lain adalah untuk memperbaiki akhlak manusia, menjadikan umat manusia memiliki akhlak mulia dan menjadikannya sebagai panduan kehidupannya dalam berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan alam semesta di sekitarnya. Mengamalkan sunnah Rasulullah yang utama adalah dengan berakhlak mulia kepada sesama.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler