Kesehatan Mental dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam

KESEHATAN MENTAL DALAM PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM

Arif Sugitanata

Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Syariah UIN Sunan Kalijaga

&

Mentor Saqinah.id

Di era digital saat ini, masyarakat dihadapkan pada arus informasi yang tidak pernah berhenti mengalir. Dari media sosial, berita online, hingga grup percakapan, setiap detiknya kita bisa terpapar oleh beragam informasi. Namun, kemudahan akses informasi ini juga membawa dampak negatif, terutama terhadap kesehatan mental. Kebanyakan informasi, terutama yang bersifat negatif atau menyesatkan, dapat menimbulkan stres, kecemasan, hingga depresi. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan mental di tengah banjir informasi digital.

Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan menyaring informasi yang kita konsumsi setiap hari. Ini berarti secara aktif memilih untuk mengikuti akun-akun yang menyediakan konten positif dan edukatif, serta menghindari berita atau informasi yang tidak verifikasi atau cenderung menimbulkan kecemasan. Selain itu, penting untuk menetapkan batasan terhadap penggunaan media digital, baik itu media sosial, berita online, maupun platform digital lainnya. Mengalokasikan waktu tertentu dalam sehari untuk 'detoks' dari segala bentuk media digital dapat membantu pikiran untuk beristirahat dan mengurangi risiko kelelahan informasi. Mengembangkan kebiasaan positif lainnya seperti mendengarkan dan ikut pengajian, murrotal Al-Qur’an, meditasi, olahraga, atau hobi yang tidak melibatkan layar digital juga sangat bermanfaat. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk relaks, tapi juga membantu dalam membangun koneksi yang lebih nyata dan bermakna dengan dunia sekitar kita, jauh dari kebisingan digital.

Terakhir, tidak ada salahnya untuk mencari dukungan profesional ketika merasa terbebani oleh informasi atau media digital. Psikolog atau konselor profesional dapat membantu menyediakan strategi dan sumber daya yang diperlukan untuk mengelola stres dan kecemasan yang mungkin timbul dari konsumsi media digital yang berlebihan. Mereka juga dapat membantu dalam mengidentifikasi pola pikir atau kebiasaan yang mungkin perlu diubah untuk mendukung kesehatan mental yang lebih baik.

Mengatasi tantangan kesehatan mental di era digital membutuhkan kesadaran, upaya yang sadar, dan terkadang bantuan dari orang lain. Dengan mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengelola konsumsi informasi dan mengembangkan kebiasaan yang mendukung kesejahteraan mental, kita dapat menjaga kesehatan mental kita dan menavigasi dunia digital dengan lebih sehat.

Kesehatan Mental dalam lensa Hukum Keluarga Islam

Dalam konteks hukum keluarga Islam, kesehatan mental memegang peranan yang sangat penting, baik dalam pembinaan rumah tangga maupun dalam penyelesaian konflik keluarga. Islam mengakui pentingnya kesehatan mental sebagai salah satu aspek kesejahteraan individu yang harus dijaga, dan hal ini tercermin dalam berbagai aspek peraturan dan ajaran yang mengatur kehidupan keluarga. Contohnya, dalam proses pernikahan, Islam menekankan pentingnya kesesuaian antara pasangan, tidak hanya dari aspek fisik dan materi, tetapi juga kesehatan mental. Kesehatan mental yang baik dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung keharmonisan dan ketahanan rumah tangga. Dalam hal ini, ajaran Islam mendorong agar sebelum memasuki pernikahan, kedua belah pihak memahami pentingnya kesehatan mental dan berusaha untuk menjaga serta meningkatkannya.

Kemudian, dalam penyelesaian konflik keluarga, Islam juga memberikan perhatian khusus pada aspek kesehatan mental. Dalam kasus perceraian, misalnya, Islam mengatur prosedur iddah (masa tunggu) yang juga memiliki dimensi kesehatan mental, di mana tujuannya adalah untuk memberikan waktu bagi kedua belah pihak untuk merenung dan memulihkan kestabilan emosional sebelum mengambil keputusan penting. Selain itu, Islam juga menganjurkan untuk menggunakan mediasi atau musyawarah dalam menyelesaikan konflik keluarga, yang tidak hanya bertujuan untuk mencapai solusi yang adil, tetapi juga untuk meminimalkan stres dan tekanan emosional yang mungkin timbul dari konflik tersebut. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman bahwa kesehatan mental adalah aspek penting yang harus diperhatikan dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam penyelesaian masalah keluarga. Terakhir, dalam pendidikan dan pembinaan keluarga, ajaran Islam menekankan pentingnya membangun lingkungan yang mendukung kesehatan mental. Hal ini termasuk pengajaran tentang pentingnya sabar, empati, dan komunikasi yang baik dalam keluarga, yang semua merupakan elemen penting dalam menjaga kesehatan mental anggota keluarga.

Melalui lensi hukum keluarga Islam, kesehatan mental tidak hanya dilihat sebagai tanggung jawab individu, tetapi juga sebagai bagian dari sistem nilai dan praktik yang lebih luas yang mendukung pembinaan keluarga yang harmonis dan sehat secara mental. Ini menunjukkan betapa pentingnya integrasi pendekatan kesehatan mental dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam konteks hukum keluarga Islam.

Pada akhirnya, baik dalam menghadapi tantangan era digital maupun dalam konteks hukum keluarga Islam, kesehatan mental merupakan aspek penting yang membutuhkan perhatian, kesadaran, dan upaya yang nyata untuk menjaganya. Melalui langkah-langkah proaktif, dukungan profesional, dan integrasi pendekatan kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari, individu dapat menjaga kesehatan mental mereka dan membangun keluarga yang harmonis dan sehat secara mental.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler