Islam dan Kemerdekaan

ISLAM DAN KEMERDEKAAN

Oleh:

Prof. Dr. Ali Sodiqin, M.Ag

(Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Hal yang paling penting untuk kita syukuri adalah keadaan kita menjadi muslim, karena sejatinya dengan berislam kita dimerdekakan dari berbagai belenggu kehidupan, yang menjadi penghalang untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Karena fungsi utama agama Islam adalah membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketergantungan, anarkhi dan ketidakadilan. Berislam dimulai dengan melafazkan kalimah syahadat,asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Ini adalah iqrar yang berarti peniadaan atau penafian. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dengan bersyahadat kita membebaskan diri, memerdekakan diri untuk untuk tidak bergantung kepada selain Allah. Dakwah Rasulullah dimulai dengan mengubah kepercayaan kepada banyak Tuhan (politheisme) menjadi hanya kepada satu Tuhan, yaitu Allah. Artinya, prinsip tauhid yang terkandung dalam syahadat menjadi pondasi kita untuk tidak menundukkan diri kepada selain Allah. Dalam konteks saat ini, banyak diantara kita yang justru menampakkan sikap tidak merdeka, karena menggantungkan diri kita kepada orang lain, kepada kepentingan tertentu, kepada kelompok tertentu yang justru membuat kita terbelenggu bahkan menjadi budak, sehingga kehidupan kita menjadi tidak bahagia.

Tauhid: Dasar Kemerdekaan Diri

Disebut bertauhid adalah ketika seorang muslim berusaha keras memosisikan dirinya selaku hamba Allahswt saja dalam segenap dimensi dirinya, baik penciptaan, penghambaan, kecintaan, perasaan maupun perilaku. Kemerdekaan seseorang atau suatu bangsa sangat ditentukan pada seberapa besar upaya individu atau bangsa tersebut menjadikan kalimat tauhidlaa ilaaha illallahsebagaimotivatordan inspiratorutama pembebasan diri atau bangsa dari dominasi apapun atau siapapun selain Allahswt. Dan pada dasarnya inilah yang telah di dakwahkan oleh Rasulullahsawserta segenap nabi dan rasul lainnya sejak dahulu kala, sebagaimana firman Allah swt yang artinya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Hal yang membuat sesorang menjadi tergadaikan kemerdekaannya adalah karena mereka tunduk nafsu dan cinta dunia. Pertama, nafsu akan membawa manusia kapada dosa-dosa dan kedzaliman. Bila ke kedzaliman terus berlangsung maka Allah swt. akan mencabut keberkahan. Bila keberkahan tidak ada, maka penderitaan akan terus menimpa penghuni sebuah negeri.Kedua, nafsu akan menyeret manusia kepada kerakusan dan kesombongan. Kerakusan dan kesombongan melahirkan kekejaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Tidak sedikit pelecehan dan pembantaian terhadap nilai-nilai kemanusiaan terjadi hanya karena karakusan terhadap harta dan kekuasaan.Ketiganafsu membuat manusia akan memiliki sifat-sifat seperti binatang. Bila manusia lebih didominasi oleh sifat kebinatangannya ia akan lebih kejam dan lebih berbahaya dari binatang. Keempat, cinta dunia akan mematikan hati nurani sehingga hati menjadi keras karena mengagungkan dan diperbudak oleh dunia. Sebab dengan mengagungkan dan diperbudak oleh dunia, ia akan lupa kepada status dirinya sebagai hamba Allah.

Oleh karena itu perlu kiranya kita bermuhasabah apakah selama ini kita sudah menjadi ‘abdullah atau hamba Allah? Kita perlu lagi membaca firman Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

‘Abdullah tugasnya hanya mengabdi, melaksanakan semua aspek kehidupan (pikiran, ucapan, perbuatan) dengan niat ibadah (mengabdi kepada Allah). Ibadah itu memiliki dua tujuan, pertama tujuan primer, yaitu mendekatkan diri kepada Allah, sebagai bukti dan taat patuh. Kedua, tujuan sekunder, yaitu mendapatkan kebaikan, ketenangan, perlindungan. Maka dalam beribadah tujuan primernya harus diprioritaskan daripada tujuan sekundernya. Jika tujuan primernya tercapai, maka tujuan sekundernya otomatis juga akan tercapai. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya.

Konsisten Menjadi Hamba Allah

Kunci untuk konsisten atauistiqamah menjadi hamba Allah adalah dengan bersikap cerdas menentukan prioritas hidup. Imam Ibnu tahoillah as-Sakandary dalam kitabnya Al Hikam menyatakan:

اجتهادك فيما ضمن لك, وتقصيرك فيما طلب منك, دليل على انطماس البصيرة منك

"Kesungguhanmu pada apa apa yang telah Dia jamin bagimu, dan kelalaianmu pada apa apa yang Dia tuntut darimu, merupakan bukti atas lenyapnya bashirah darimu

Sesuatu yang dituntut oleh Allah yaitu beribadah, harus menjadi prioritas, karena tujuan utama hidup adalah beribadah kepada Allah. Tujuan adanya perintah adalah untuk jaminan kebaikan hidup. Sedangkan sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah, yaitu rejeki tidak perlu dikhawatirkan, apalagi jika untuk mendapatkannya sampai melupakan ibadah. Mengejar sesuatu yang sudah dijamin dan melalaikan perintah Allah adalah tanda kebodohan atau buta hati, sekaligus tanda bahwa kita menjadi budak dunia.

Kecukupan hidup bersumber dari ridha Allah, bukan karena keahlian manusia. Ada orang bodoh mempekerjakan orang kaya, ada orang ahli ekonomi tetapi tidak kaya. Ini menunjukkan bahwa Kuasa Allah yang menentukan bukan ilmu manusia. Disinilah letak kebenaran tauhid, yang menjadi pondasi keislaman kita, menjadi dasar untuk kita menjadi merdeka. Kita hanya perlu menjalankan perintah dari Yang Maha Satu, bergantung dan berharap kepada Yang Maha Satu, memohon perlindungan kepada Yang Maha Satu, memohon pertolongan kepada Yang Maha Satu, serta meyakini bahwa segala yang terjadi di dunia ini berasal dari Kuasa Yang Maha Satu. Dengan begitu kita terbebas dari bergantung kepada pihak lain, terbebas dari rasa takut kepada orang lain, dan terbebas dari menyalahkan dan membenci orang lain.

Dengan meyakini keesaan Allah, berserah diri kepada Allah, menjalankan segala sesuatu karena Allah, hidup kita akan menemukan kebahagiaan. Formula matematika orang beriman adalah: Saya plus Allah sama dengan cukup.

Semoga Allah swt selalu melimpahkan hidayah dan taufiqNya, memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu istiqamah dalam keimanan, keislaman dan keihsanan.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler