Mengimani Musibah
MENGIMANI MUSIBAH
Dr. Ali Sodiqin, M.Ag
Marilah kita selalu berusaha meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan sebenar-benar taqwa, dengan seutuh-utuhnya taqwa, yaitu meyakini dan menjalankan semua perintah Allah dengan niat ibadah, mengabdi sepenuh hati atas dasar ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Oleh karena itu meningkatkan ketaqwaan haruslah dimulai dengan memperkuat keimanan kita dan ditindaklanjuti dengan memperbanyak ibadah dan amal salih sebagai bukti kuatnya iman. Ketaqwaan yang benar dan utuh adalah yang bersifat konsisten, istiqamah, yaitu ketaqwaan yang selalu ada di manapun dan dalam situasi apapun kita berada. Dalam keadaan suka maupun duka, saat mendapat nikmat atau musibah, dalam keadaan sempit maupun lapang, seharusnya ketaqwaan tetap dapat kita pertahankan. Termasuk dalam situasi saat ini, dimana pandemi covid-19 belum juga berakhir, yang masih menjadi musibah bagi kita semua. Oleh karena itu, kita harus memandang pandemi ini dengan keimanan kita, sekaligus menjadi pembuktian apakah keimanan kita kuat saat menghadapi masa-masa pandemi ini.
Hal penting yang harus kita tanamkan dalam hati dan pikiran kita adalah mengimani adanya musibah. Musibah apapun yang terjadi di dunia ini haruslah kita yakini dan kita terima keberadaannya. Musibah adalah ayat Allah, yaitu petunjuk atau tanda-tanda dari Allah yang harus kita baca, kita pahami, dan kita hadapi. Allah telah menunjukkan adanya musibah melalui dua jenis ayat, yaitu ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah firman-firman Allah yang terdapat dalam Alquran, yang menjelaskan tentang keberadaan musibah dan bagaimana kita menghadapinya.Di dalam QS Al Hadid 22-23 Allah menjelaskan tentangadanyamusibah:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ*لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Tiada suatumusibahpun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(22) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.(23).
Ayat ini memberikankejelasan tentang keberadaanmusibah.Pertama,hadirnyamusibah, baik yang menimpa alam, social, maupun pribadi manusia adalah kehendak Allah, atas ijin Allah,aliastakdir Allah. Oleh karena itu kita tidak bolehmenafikan adanya musibah, atau malahmenyalahkan pihak lain atasterjadinya musibah, karena meskipun ada pihak yang dianggap sumbermusibah, tetapi terjadinyamusibahtetaplah dalam kuasa Allah, bukan kuasa manusia. Pemahaman ini sangat penting, agarmusibahmenjadi alat muhasabah diri, mengevaluasi diri, bukan malah menimpakan kesalahan kepada pihak lain. Jika setiap anggota masyarakat melakukan muhasabah terhadap dirinya, maka mereka akan bergegas melakukan perbaikan dirisecarabersama sama, memperbaiki perilaku pribadi dan sosialnya, sehingga lingkungan kehidupan di sekitarnya akan kembali damai.
Kedua, hadirnyamusibahadalah cara Allah memperbaiki lahir dan batin kita, agar kita menjadi manusia yang seimbang jiwa raganya, tidak mudah terpengaruh oleh kondisi sekitar, tetap focus pada tujuan hidup, sehingga terhindar dari sikap sombong dan arogan, sebagaimana disebut di akhir ayat yang ke 23.
Kandungan ayat diatas ditegaskan lagi oleh Allah dalam QS At-Taghaabun ayat 11:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ayat ini memberikan panduan tentang cara menghadapi hadirnyamusibah, yaitu meyakini bahwamusibahadalah kehendak Allah untuk memperbaiki kehidupan manusia. Keyakinan itulah yang akan menggerakkan orang untuk segera bangkit dari musibah, memiliki sikap optimis dalam menghadapi musibah, karena keyakinannya bahwa sesuatu yang datang dari Allah selalu mengandung sisi positif. Sikap ini akan menghindarkan seseorang dari sikap berkeluh kesah, pesimis, depresi akibat musibah yang menimpanya.
Petunjuk Allah tentang adanya musibah juga datang melalui ayat kauniyah, yaitu kejadian di alam semesta, termasuk di dalamnya hasil-hasil penelitian tentang faktor penyebab adanya musibah. Alam semesta ini adalah laboratorium tempat manusia belajar dan menemukan ilmu pengetahuan.Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 190 – 191 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّـهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keaadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(191)
Oleh karena itu temuan para ahli tentang adanya musibah adalah ayat kauniyah yang harus diyakini kebenarannya. Temuan-temuan tersebut juga didukung oleh fakta-fakta empiris yang dapat dipelajari dan diterima akal manusia. Maka, mengabaikan temuan para ahli sama artinya dengan kita mengabaikan ayat-ayat kauniyah.
Dengan mengimani ayat qauliyah dan ayat kauniyah tentang adanya musibah, kita akan menemukan satu benang merah hubungan antara kuasa Allah dengan ikhtiar manusia. Terjadinya musibah adalah kuasa Allah, karena hadirnya musibah adalah kehendak Allah, termasuk situasi pandemi saat ini adalah kehendak dan kuasa Allah. Jika ada pihak yang menyatakan bahwa ini adalah rekayasa manusia, maka sesungguhnya rekayasa manusia itu juga tunduk pada kuasa Allah.Dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 54 Allah SWT menegaskan:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“dan mereka (orang-orang kafir) itu membuat tipu daya, maka Allahpun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.
Oleh karena itu, jika kita mengimani adanya musibah, maka menganggap terjadinya musibah sebagai rekayasa manusia adalah bukti bahwa kita tidak mampu membaca ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah maupun ayat kauniyahnya. Disinilah pentingnya kita beragama dengan menggunakan akal, karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia karena diberikan potensi akal agar menjadi ulul albab, yaitu orang yang mau berfikir.
Berdasarkan ayat ayat Allah, maka yang harus kita lakukan ketika terjadi musibah bukanlah mempertanyakan keberadaannya, atau saling melempar kesalahan dan membuat kericuhan dengan menyebarkan berita bohong. Hal yang bijaksana adalah segera melakukan evaluasi diri, mengakui kesalahan, memohon ampun, dan segera berikhtiar melakukan perbaikan. Musibah ini adalah bukti adanya kerusakan sunnatullah yang diakibatkan oleh kesalahan manusia, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Melalui musibah, Allah sedang berkehendak mengembalikan keseimbangan alam semesta ciptaanNya. Oleh karen itu, musibah perlu dipahami sebagai cara Allah mengasihi hambaNya, yaitu memberikan peringatan kepada kita untuk segera memperbaiki diri dan lingkungan di sekitar kita. Kita harus jujur mengakui adanya kesalahan yang telah kita lakukan di masa lalu, yang berakibat pada kerusakan pada masa sekarang. Maka yang diperlukan saat ini adalah mengembangkan kesalihan sosial, saling membantu, saling menguatkan, dan saling melindungi satu sama lain atas dasar kemanusiaan. Mari kita kembangkan sikap ta’aruf, sikap tafahum, sikap ta’awun, dan sikap takaful. Mari kita saling mengenali saudara kita, memahami kebutuhan mereka, memberikan bantuan sesuai kebutuhan, dan menjamin keamanan dan kesejahteraan mereka.