Keutamaan Akhlak
KEUTAMAAN AKHLAK DAN ADAB SOPAN SANTUN
Oleh: H. Muhammad Syakur, M.H.
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Rasulullah S.A.W. diutus tak adalah lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tanpa akhlak dan moralitas manusia hanya ibarat sebuah robot yang dikontrol oleh hawa nafsunya. Akhlak dalam terminologinya merupakan karakter manusia yang mendorong ia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu, bisa berupa perbuatan terpuji ataupun sebaliknya. Oleh karenanya untuk dapat berakhlak manusia membutuhkan sosok tauladan yang menjadi contoh dan menunjukkan mana itu akhlak yang baik dan mana itu akhlak yang tidak baik. Sosok tersebut adalah Rasulullah S.A.W. dengan segenap ajarannya.
Akhlak dalam arti adab mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan ketaatan. Hal ini bisa dilihat bahwa orang yang mengabaikan adab bisa terjerumus dalam kekafiran, sedangkan meninggalkan ketaatan tidak sampai menyebabkan kekufuran namun hanya kefasikan. Orang yang menghina ibadah salat misalnya akan langsung dihukumi kafir, sedangkan orang yang meninggalkan salat karena malas, ia hanya dihukumi dosa besar atau fasik, tidak sampai menjadi kafir.
Adab bahkan lebih didahulukan daripada mentaati perintah, sebagaimana sahabat Abu Bakar Siddiq, ketika Rasulullah S.A.W. sakit beliau didaulat untuk menggantikan menjadi imam salat. Ketika nabi merasa agak ringan sakitnya, beliau minta tetap diantar salat ke masjid. Saat Abu Bakar merasakan kedatangan Rasulullah S.A.W. ia buru-buru mundur dari posisinya sebagai imam walau Nabi mencegahnya. Perintah Nabi agar Abu Bakar tetap dalam posisinya diabaikannya karena dalam pandangan Abu Bakar tidak berakhlak kiranya seorang Abu Bakar mengimami salat Rasulullah S.A.W.
Pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslimin dengan kafir Makkah, ada salah satu poin dalam perjanjian yang oleh pihak kafir Makkah tidak disetujui dan minta untuk dihapus, yaitu poin kata “Muhammad Rasulullah”, diganti dengan kalimat “Muhammad bin Abdullah”. Para Sahabat tidak ada yang mau menghapus nama “Rasulullah” meskipun diperintah oleh Nabi, sehingga akhirnya Nabi sendiri yang menghapusnya. Sahabat memilih tidak mentaati perintah menghapus, karena menghapus kata tersebut merupakan perilaku yang tidak berakhlak dan tidak beradab. Sama juga dengan para ulama yang tidak melarang menambah kata sayyidina dalam redaksi shalawat, meskipun ada yang mendasarkan larangan tersebut atas perintah Nabi. Karena memanggil nama “Muhammad” begitu saja mencederai adab dan akhlak kepada Rasulillah S.A.W. Bukankah ketika memanggil orang tua, tamu, pimpinan dan pejabat kita tidak langsung memanggil namanya? setidaknya menghormati mereka dengan memanggil bapak, ibu atau saudara. Ulama lebih memilih mendahulukan adab dari pada mentatati suatu perintah yang berimplikasi mencederai adab kesopanan dan akhlak. Dalamsatu kaidah disebutkan:
اِذَا تَعاَرَضَ اَلْاَمْرُ وَالْاَدَبُ قُدِمَ اَلْاَدَبُ
“Ketika ada pertentangan mana yang dipilih antara mentaati perintah dan adab, maka dahulukan adab”.
Adab terkadang menyebabkan datangnya hidayah dari Allah S.W.T. walaupun hanya berupa kesopanan kepada orang yang lebih tua. Dalam Kisah Nabi Musa as. dengan tukang sihirnya Fir’aun terungkap dialog antara keduanya yang diabadikan dalam firman Allah S.W.T. :
قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ
Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?"(Al-A’raf: 115).
Kesopanan para ahli sihir Fir’aun menawarkan Nabi Musa as. terlebih dahulu untuk beraksi melemparkan mukjizat tongkatnya mendapat sambutan ridla Allah S.W.T. Mereka akhinya mendapat hidayah mau insyaf dan taubat seketika dan mau beriman setelah buhul-buhul (tali) mereka yang menjelma ular-ular kecil dikalahkan oleh mukjizat tongkat Nabi Musa as. yang menjelma menjadi ular besar dan melumat ular-ular mereka. Tidak ada anugerah yang lebih agung selain hidayah keimanan dan hal ini diperoleh para tukang sihir karena kesopanan mereka kepada Nabi Musa as.
Akhlakul karimah banyak ditunjukkan oleh generasi-generasi setelah Rasulullah S.A.W, baik Sahabat,Tabi’in, maupun ulama-ulama setelahnya. Sayyidina Ali r.a. ketika hendak salat Subuh, di tengah jalan ada seorang tua yang berjalan dengan sangat lamban. Sayyidina Ali tidak berani mendahuluinya sampai orang tua tersebut melewati masjid. Dantanpa disadari oleh Sayyidina Ali ternyata ia adalah seorang Nasrani. Karena hampir matahari terbit, Sayyidina Ali bergegas masuk masjid dan masih mendapati Rasulullah masih dalam posisi rukuk. Setelah salam sahabat menanyakan durasi rukuknya Nabi yang lama tidak seperti biasa. Rasululah mengatakan bahwa saat rukuk dan setelah membaca tasbih tiba-tiba Malaikat Jibril menahan punggung beliau untuk tetap rukuk, dan ternyata hal ini Malaikat Jibril lakukan karena Allah memerintahkan Jibril untuk memberi kesempatan Sayidina Ali ikut berjama’ah. Bahkan tidak hanya itu, matahari oleh Malaikat Jibril ditahan dengan sayapnya untuk tidak cepat-cepat terbit. Kemuliaan ini diperoleh Sayyidna Ali karena telah menghormati seorang yang telah lanjut usia walaupun ia seorang Nasrani.
Hasan al Bashri mempunyai tetangga non-muslim yang berdomisili di lantai atas rumahnya (lantai dua). Suatu ketika kamar mandi non-muslim tersebut bocor ke bawah. Hasan al Bashri menyuruh isterinya untuk selalu membersihkan bocoran tersebut dan diminta untuk tidak melaporkan kepada siapapun sampai 20 tahun. Ia hanya ingat akan pesan ajaran Rasulullah S.A.W untuk selalu berbuat baik dengan tetangga.
Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, beliau di Madinah tidak pernah naik kendaraan, meskipun sudah lanjut usia beliau tetap berjalan kaki. Ketika ditanya mengapa begitu, dia menjawab bahwa di Madinah ini merupakan tanah tempat dimana Rasulullah S.A.W. beristirahat dan dia sangat menghormati Rasulullah S.A.W. KataImam Malik:
استحي من الله أن أطأ تربة فيها رسول الله بحافر دابة
“Aku malu kepada Allah jika aku menginjakkan kaki tungganganku di atas tanah dimana Rasulullah S.A.W beristirahat di dalamnya”.
Hal ini berbeda jauh dengan kita yang selama ini kurang peka dengan adab sopan santun sehingga masih sempat berswa foto (selfi) di halaman Masjid Nabawi sambil berpose kanan-kiri tanpa mengindahkan bahwa ada Raulullah S.A.W disekitar kita.Astaghfirullah.