Meluruskan Keislaman Kita
MELURUSKAAN KEISLAMAN KITA
Oleh: Dr. Ali Sodiqin, M.Ag
(Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Sebagai muslim,kita perlu untuk selalu mengevaluasi keislaman kita, agar senantiasa berada dalam jalur yang benar, sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana kita lihat, amati, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam ranah media sosial, kita melihat perilaku keislaman yang beragam, dari yang menebarkan rahmat sampai yang menebarkan musibah. Sehingga tidak jarang kita melihat peilaku umat Islam satu dengan yang lainnya justru tidak menunjukkan ajaran Islam itu sendiri. Untuk itu ada baiknya kita membaca lagi firman Allah swt dalam surat Al Anbiya 107:
وماارسلنك الارحمة للعالمين
“dan tidaklah aku utus engkau (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi alam semesta”
Ayat ini secara tegas menjelaskan tentang tujuan diturunkannya ajaran Islam melalui Rasulullah saw. yaitu menjadi rahmat bagi alam semesta. Hal ini juga berkonsekuensi bahwa setiap penganut Islam berkewajiban menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan hanya rahmat bagi sesama muslim, tetapi menjadi rahmat bagi sesama manusia, bagi lingkungan dan alam sekitarnya. Ini merupakan tanggung jawab yang besar sebagai komiten kita menjadi muslim.
Dalam menerapkan dan membumikan ajaran rahmat ini Rasulullah menggunakan metode uswah hasanah, hal ini sebagaimana kita temukan dalam QS Al Ahzab 21:
لقدكانلكم في سول لله اسوة حسنة لمن كان يرجوالله واليوم الاخرو ذكرالله كثيرا
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan hari akhir dan senantiasa memperbanyak zikir kepada Allah.”
Keteladanan menjadi kata kunci dalam mengupayakan rahmat bagi alam semesta. Secara historis hal ini dapat kita baca dalam sirah nabi bagaimana keberhasilan Rasulullah membangun komunitas umah, menata sistem sosial baik dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin politik maupun pemimpin agama. Keteladanan Rasulullah ini ditampakkan melalui akhlak Rasulullah yang mulia, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al Qalam 4:
وانكلعلى خلق عظيم
“dan sesungguhnya kamu (Muhammad) memiliki akhlak yang agung”.
Dari dua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa keteladanan sebagai upaya untuk membumikan rahmat dimulai dengan menjadikan diri kita berakhlak mulia. Dengan demikian akhlak menjadi panglima dari ajaran Islam, puncak dalam berislam adalah menjadi muhsin atau berperilaku ihsan. Rasulullah mendefinisikan ihsan melalui sabda beliau:
انتعبد الله كانك تره فان لم تكن تره فانه يرك
“ihsan yaitu ketika engkau menyembah Allah seakan akan engkaumelihat Allah, dan jika engkau tidak dapat melihat Allah maka sesungguhnya Allah melihatmu.”
Ihsan adalah kemampuan menghadirkan Allah swt dalam setiap detik kehidupan kita, sehingga menjadi alat kontrol bagi setiap pikiran, ucapan, dan perilaku kita. Dengan kemampuan tersebut maka pikiran, ucapan dan perilaku kita akan selalu baik, karena kita yakin bahwa Allah selalu melihat apapun yang kita pikirkan, kita ucapkan dan kita lakukan.
Dari penjelasan ayat dan hadis di atas, kedudukan akhlak menjadi sangat penting untuk mengukur keislaman kita. Tidaklah disebut berislam ketika kitab tidak memiliki akhlak mulia, tidaklah kita dapat menjadi uswah hasanah jika akhlak kita buruk, dan tidak mungkin kita menjadi rahmat bagi semesta jika kita tidak berakhlakul karimah. Standar inilah yang mestinya kita jadikan patokan bagi setiap aktivitas kehidupan kita. Namun hal ini jugalah yang hilang dari diri umat Islam Indonesia saat ini.
Perilaku membully, membuat berita bohong dan menyebarkannya, menebar fitnah, mencaci maki, bahkan menganiaya sesama manusia bahkan sesama muslim, bukanlah cerminan perilaku islami, sehingga patut dipertanyakan keislamannya. Banyak umat Islam yang memiliki kemampuan ilmu yang tinggi, bahkan disebut ulama atau ustaz, tetapi tidak dapat menempatkan dirinya sebagai uswah hasanah karena kehilangan akhlak mulianya. Oleh karena itu mereka tidak mampu menjadi rahmat bagi kaumnya apalagi bagi alam semesta.
Rasulullah mengajarkan bagaimana membumikan ihsan tersebut dengan berperilaku mulia terhadap lingkungan yang terdekat, sebagaimana sabda beliau:
لايؤمناحدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه
“tidak beriman salah satu diantara kamu sehingga dia menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang diinginkan untuk dirinya sendiri”.
منكان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره
“barang siapa yang menyatakan beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia memuliakan tetangganya”.
منكان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرمضيفه
“barang siapa yang menyatakan beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia memuliakan tamunya”
Ajaranyang sangat sederhana tetapi mampu menghadirkan rahmat. Bahwa berakhlak mulia dimulai dengan memperlakukan saudara seperti kita memperlakukan diri sendiri, memuliakan tetangga dan tamu kita. ini adalah contoh sederhana tetapi seringkali kita abaikan. Dalam hadis tersebut Rasulullah juga mengaitkan perilaku ihsan dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Ini menunjukkan adanya hubungan simbiosis antara keimanan dengan keihsanan, bahwa keimanan tidaklah cukup kecuali dibuktikan dengan baiknya perilaku kepada sesamanya. Seseorang belum disebut beriman kepada Allah dan RasulNya jika belum menunjukkan akhlak yang mulia. Oleh karena itu janganlah kita merasa sudah beriman karena rajin beribadah atau memiliki ilmu yang banyak. Keimanan harus dibuktikan dengan melaksanakan ibadah, dan juga dengan menunjukkan perilaku yang baik kepada sesama.
Marilah kita bersama meluruskan keislaman kita sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah, dengan senantiasa berakhlak mulia, menjadi uswah hasanah bagi masyarakat sehingga pada akhirnya kita memapu menjadi rahmat bagi saudara, sesama, dan alam sekitar kita.