The Journey of Fasting Behaviour

THE JOURNEY OF FASTING BEHAVIOR

HM. Sukaelan, SH., M. Kes.

Mahasiswa Program Doktoral (S3) Fakultas Syari’ah & HukumUIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sudah ber-abad abad puasa dilakukan umat manusia bakan sejak Nabi Adam AS sampai Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Pertanyaan yang sering menggelitik perasaan adalah apakah puasa yang dilakukan sudah betul-betul sesuai dengan kaedah dan tatacara yang telah di tuntunkan? Apakah puasa yang dilaksanakan sudah dapat mencapai tujuan puasa itu sendiri, yakni menjadi orang yang bertaqwa? Apakah orang yang telah melakukan puasa bisa mengubah sikap dan perilakunya sesuai dengan kaidah dan tuntunanya? atau sekedar menggugurkan kewajiban sehingga puasa yang dilakukan hanya bersifat rutinitas belaka tanpa berdampak positif sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri.

Sudah banyak sekali para alim ulama, para cendikia, ustadz/ustadzah, mubaligh mubalighoh yang dengan baik telah menerangkan puasa dari perspektif agama. Penulis ingin menyampaikan puasa dilihat dari kacamata perilaku budaya yang disesuaikan denganThe Bradly Curve.

The Bradly Curve menyebutkan bahwa behavior / prilaku orang dalam mengarungi hidup secara garis besardapat dibagi menjadi empat tingkatan:

1) Natural Instincts, baru bertindak kalau merasa terusik. Dalam teori ini di sebut natural insting atau insting kebinatangan, yang dapat digambarkan seperti hewan/ular akan mematukbila diganggu tetapi bila tidak juga tidak akan ada reaksi apa-apa. Inilah apakah puasa yang dilakukan itu hanya bersifat natural insting atau yang lain semua berpulang kepada kita. Ada dimanakah tingkat puasa kita? apakah masih di tataran natural instingkarena terusik oleh situasi dan kondisi sekitar?.Kata kunci pada tingkatan ini adalah puasa dilakukan secara naluri, patuh karena dipaksa, tidak enak sama para para pemimpin, alim ulama dan lain lain. Sehingga puasa yang dilakukan hanya karena alamiah saja, karena memasuki bulan puasa ya akhirnya ikut puasa.

2) Supervision. Dalam tingkatan ini puasa dilakukan karena merasa ada yang mengawasi. Lain halnya kalau merasa diawasi oleh Sang Khaliq. Penggambaran ini bagaikan saat orang naik sepeda motor, memakai helm adalah kelengkapan dari mengendarai sepeda motor, bukan karena ada polisi. Padahal helm yang dipakai sejatinya adalah untuk perlindungan keselamatan dan kesehatan kepalanya dari benturan aspal atau benda apapun. Pertanyaannya, apakah puasa kita masih dalam tahap ini, puasa yang dilakukan hanya untuk atau merasa tidak enak pada orang lain?

Sesuai kaidahnya bila puasa kita masih dalam tataran pertama,Natural Instinctsdan kedua,Suprevision, maka jangan – jangan kita termasuk sabda Rasullullah SAW:

كَمْمِنْصَائِمٍلَيْسَلَهُمِنْصِيَامِهِإِلَّاالْجُوْعوَالْعَطْش

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i). Hadist di atas secara jelas memberikan suatu pengertian bahwa betapa banyak orang melakukan puasa dan sukses mencegah dirinya dari hal-hal yang membatalkan puasa, hanya saja tidak mendapatkan pahala.

Mudah-mudahan puasa kita pada tahun ini dijauhkan dari dua tingkatan perilaku di atas, sehingga kita tidak terkena kaidah yang disampaikan olehRasullullah SAW di atas.

3)Independent, artinya puasa yang dilakukan sudah dengan penuh kesadaran diri bahwa puasa itu selain wajib.Puasa menjadi kebutuhan setiap muslimin, muslimat karena beberapa faidah dan balasan puasa itu sendiri. Hanya Allah SWT yang akan memberikan balasannya, berapa besarnya bisa sampai tak terhingga. Karenaini adalah hak prerogatif Allah SWT, bahkan Nabi pun tidak di berikan informasi seberapa besar balasan yang akan diberikan oleh Allah SWT untuk orang yang puasa.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Maksud dari ungkapanوأنا أجزى به = Aku yang akan membalasnya), adalah bahwa pengetahuan tentang kadar pahala dan pelipatan kebaikannya hanya Allah yang mengetahuinya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata, bahwa amalan-amalan telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa ia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali sampai sekehendak Allah kecuali puasa. Maka Allah sendiri yang akan memberi pahala tanpa Batasan bilangan. Hal ini dikuatkan dari periwayatan Muslim, 1151 dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallalm bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”

4)Interdependent, ini adalah tingkaan yang paling tinggi, karena selain puasa sudah dilakukan sesuai dengan syarat dan rukunnya dan tidak ada muatan-muatan yang lain. Pada tingkatan ini malah sudah peduli antar sesama saling menolong dan saling memberi dalam kebaikan. Nilai-nilai puasa sudah menjadi sumber dari sikap dan perilaku sehari-hari, antara lain dengan peduli/ empati kepada para orang-orang lemah baik secara ekonomi maupun sosial budaya dan lainnya. Jati diri sebagai seorang muslim sudah menjadi nilai tambahdan bisa untuk dijadikan suri tauladan bagi yang lainnya. Hal ini pun sudah di terapkan Tokoh Pendididkan Nasional Ki Hajar Dewantara melalui filosofi ”Ing Ngarsa Sun Tulada, Ing Madya Mangunkarsa, Tut Wuri Handayani,

Ing Ngarsa Sun Tulada: artinya saat menjadi pemimpin dalam tingkatan apapun bisa memberi suri tauladan dalam bersikap maupun berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pelaksanaan ajaran agama maupun perilaku sosial lainnya.

Ing Madya Mangunkarsa, Saat mereka di tengah-tengah masyarakat bisa memberikan motivasi kehidupan beragama dan bermasyarakat sesuai dengan ajaran agama dan norma kemasyarakatan dengan baik.

Tut wuri handayana, Saat mereka ada di belakang dapat memberikan dorongan untuk beribadah dan hidup bermasyarakat yang sesuai dengan ajaran keagamaan,saling hormat menghormati sehingga tercipta:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.(QS Al Maidah ayat 2.)

Demikian, tulisan singkat tentang puasa dilihat dari kacamataThe Bradly Curve, dengan harapan mudah-mudahan ada manfaatnya.والله عالم

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler