Puasa Ramadhan: Strategi Menjaga Keseimbangan Hidup
PUASA RAMADHAN: STRATEGI MENJAGA KESEIMBANGAN HIDUP
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Sodiqin, M.Ag
(Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Keutamaan bulan Ramadhan terbagi dalam tiga fase, yaitu fase rahmat di sepuluh hari pertama, fase maghfirah di sepuluh hari kedua, dan fase ‘itqun min an-nar di sepuluh hari terakhir. Dengan demikian terdapat hubungan yang berkaitan antar fase tersebut, yaitu kesinambungan sunnatullah sebagai bukti keutamaan bulan Ramadhan. Sepertiga pertama Allah menurunkan rahmat, dan sepertiga yang kedua Allah membuka pintu ampunanNya. Dan sepertiga terakhir Allah mengampuni dosa-dosa hambaNya. Jika kita berhasil mendapatkan tiga keutamaan tersebut, maka insyaallah kita lulus dan terbebas dari penderitaan di dunia dan di akhirat.
Fase-fase tersebut semestinya membentuk irama kehidupan kita, dalam arti puasa yang sudah kita laksanakan tentunya sudah membentuk pola hidup kita yang sehat, baik secara jasmani maupun ruhani. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi, yaitu: Puasalah maka kamu sehat. Untuk itulah kita perlu mengevaluasi seberapa berhasilkah puasa yang sudah kita jalani. Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi, yaitu berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus, serta tidak mendapat ampunan dari Allah. Rasulullah sudah mengingatkan kita dalam sabdanya:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إلَّا السَّهَرُ
"Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja.”
Jika kita observasi dan kita renungkan, realitas kehidupan sosial di bulan Ramadhan begitu berubah. Kita merasakan begitu kuatnya kepedulian sosial umat Islam, begitu terbukanya hati dan jiwa mereka, sehingga kesatuan ummat seakan tergambar dari berbagai aktifitas yang berlangsung selama bulan Ramadhan. Secara ritual, betapa masjid selalu dipenuhi jamaah setiap malamnya, diisi dengan kegiatan salat fardu dan sunnah, pengajian dan tadarus al-Qur’an. Malam Ramdhan begitu hidup, tidak seperti malam di bulan selainnya.
Secara sosial, kesejahteraan masyarakat meningkat. Setiap masyarakat begitu ringannya bersadaqah, berbagi kebahagiaan dengan mengadakan buka bersama, sehingga fakir miskin tidak kuatir untuk tidak bisa makan, karena jika dia mau datang ke masjid, di sana sudah tersedia buka bersama gratis setiap harinya. Bahkan di akhir bulan nanti, mereka akan mendapatkan hak mereka, yaitu harta zakat. Bukankah ini pemandangan yang indah, seindah bulan Ramadhan yang penuh berkah. Pertanyaannya kemudian adalah dapatkah kita mempertahankan keseimbangan jasamani dan ruhani kita setelah bulan Ramadhan ini selesai? Maukah kita mempedulikan nasib saudara kita yang lemah secara ekonomi, hingga dapat mengurangi beban kehidupan mereka?
Puasa Ibarat Drainase Kehidupan
Puasa dan juga ibadah wajib lainnya, adalah ibarat drainase atau saluran pengairan dalam kehidupan kita, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Melalui drainase itu Allah akan mengalirkan rahmatNya kepada kita, dan melalui drainase itu juga kita mengalirkannya kepada saudara-saudara kita. Jika kita selalu mengalirkan rahmat tersebut, dari Allah ke kita, dan dari kita kepada sesama manusia, maka drainase kita akan tetap bersih, mengalir dengan lancar dan tidak berkubang kotoran.
Rahmat Allah akan mengalir ke diri kita, jika saluran tersebut kita jaga kebersihannya, yaitu dengan menjaga kesucian hati dan pikiran, mengelola hawa nafsu, dan memperbanyak amal salih. Maka ibadah yang kita lakukan, termasuk puasa, adalah dalam rangka merawat drainase rahmat, agar tidak berkarat oleh dosa, kesombongan, kemaksiatan dan kemunkaran. Karena perilaku-perilaku tercela tersebut akan membuat hati kita membatu, sehingga sulit untuk menerima rahmat dan hidayah Allah. Setiap kemunkaran akan membuat satu titik hitam di hati kita, semakin banyak kemunkaran yang kita lakukan, maka semakin banyak titik hitam itu memenuhi hati kita. Itulah simbol betapa drainase kita sudah pekat oleh tumpukan kotoran yang mengeras, sehingga sulit dialiri dan sulit menampung aliran rahmat Allah.
Di sisi yang lain, anugerah yang kita terima dari Allah haruslah kita salurkan kepada manusia lain, sehingga keseimbangan aliran tersebut tetap terjaga. Kekayaan, kepandaian, harus bisa mendatangkan kemaslahatan, bukan hanya untuk kita dan keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar. Karena sesuatu yang menumpuk akan mengakibatkan pengendapan serta pendangkalan hati dan pikiran kita. Hati dan pikiran yang dangkal akan mudah diombang ambingkan oleh nafsu, sehingga nafsu menjadi panglima kehidupannya. Bisa dipastikan, jika nafsu yang diperturutkan, maka kecelakaanlah yang akan menimpa kehidupannya.
Orang yang enggan bersedekah, enggan berbagi ilmu akan dihinggapi penyakit phobia, merasa takut akan ada orang yang menipunya, merongrong hartanya, sehingga dia menjadi sangat pelit dan kikir. Maka orang yang seperti ini ibarat menutup drainasenya sendiri, sehingga lambat laun dia akan berkubang lumpur akibat kekayaannya. Ini menunjukkan aliran yang tidak sehat, yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Dalam surat at-Taghabun ayat 16 Allah mengingatkan kita:
فٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ وَٱسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Maka bertakwalah kamu sebisamu, dengarkanlah, taatlah, dan belanjakanlah hartamu secara baik. Barang siapa yang dijaga dari kekikiran maka meraka adalah orang-orang yang beruntung”
Oleh karena itu, di bulan Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki drainase kehidupan kita. Salat, bersedekah, tadarus, zakat fitrah ataupun zakat mal, adalah alat-alat atau sarana untuk membersihkan dan mensucikan saluran itu. Jika kita ikhlas melaksanakannya, disertai dengan iman dan harapan kepada Allah, maka Allah pasti akan mengalirkan rahmat dan ampunanya kepada kita. Semakin besar kita menyalurkannya, maka semakin banyak rahmat Allah yang akan kita terima.
Maka dapat disimpulkan bahwa, puasa Ramadhan, adalah sarana yang disediakan Allah untuk menata keseimbangan hidup kita. Jika selama 11 bulan sebelumnya, secara tidak sadar, kita kehilangan keseimbangan hidup, baik keseimbangan antara jasmani dan ruhani, maupun keseimbangan antara kesalehan individu dengan kesalehan sosial. Maka saat inilah yang paling tepat untuk kembali menyeimbangkannya, agar kehidupan kita menjadi sehat lahir dan batin. Pola peribadatan kita selama bulan Ramadhan ini, seharusnya membentuk kedisiplinan, memperteguh keimanan, dan membuka sifat kedermawanan kita. Jika semua ini berhasil kita rasakan, kita pertahankan sebagai gaya hidup kita seterusnya, niscaya hidup kita akan penuh rahmat dan ampunan Allah. Inilah gambaran nyata manusia takwa, yang menjadi tujuan utama ibadah puasa. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang berpangkat muttaqin, sehingga di akhir Ramadhan nanti kita kembali fitri. Amin.