Manajemen Masalah Perspektif Alquran
MANAJEMEN MASALAH PERSPEKTIF ALQURAN
Oleh: Dr. Ali Sodiqin, M.Ag
Dalam menjalani kehidupan ini, ada sesuatu yang senantiasa dan selalu mengiringi langkah kita. Sesuatu itu adalah masalah. Ibarat dua sisi koin mata uang, hidup dan masalah adalah sesuatu yang tdk terpisahkan. Berani hidup berarti harus berani pula menghadapi masalah, dan selama manusia itu hidup, maka selama itu pula masalah itu akan tetap ada. Intinya, masalah adalah bagian dari kehidupan. Namun hal ini bukan berarti bahwa kita harus membuat masalah, atau menjadi sumber masalah, akan tetapi kita wajib untuk menghadap masalah itu dan menyelesaikannya.
Cara orang menerima masalahberbeda beda, ada yang meratapi, mengeluh, pasrah, namun ada juga yang bersyukur karena ada masalah menimpanya. Semua ini tergantung pada cara pandang kita terhadap masalah, apakah dengan positive thinking atau sebaliknya dengan negative thinking. Perbedaan cara pandang ini menghasilkan sikap dan konsekuensi yang berbeda, sehingga kita sering melihat ada orang yang semakin terpuruk karena masalah tetapi ada orang yang justru semakin tegar dan hebat karena masalah.
Di dalam Al-Qur’an Allah telah mengajarkan cara pandang dalam menghadapi masalah:
1. Masalah adalah bentuk kasih sayang Allah yang berupa peringatan. Hal ini ditegaskan dalam QS. Muhammad :31:
ولنبلونكم حتى نعلم المجهدين منكم والصبرين ونبلو اخباركم
“dan Allah memberikan cobaan kepada kamu sehingga Allah mengetahui mana orang-orang yang memiliki keteguhan dan kesabaran diantara kamu, dan Allah akan memberikan penilaian baik buruknya sikap kalian
Zahir ayat ini menandaskan bahwa masalah adalah cara Allah menguji hambanya apakah termasuk orang-orang yang memiliki kesungguhan dan kesabaran dalam hidup. Ketika kita mampu menghadapi masalah dengan kesabaran dan kesungguhan, maka pada saat yang sama Allah ingin menginformasikan sikap itu kepada orang lain. Sehingga masalah menjadi media yang digunakan Allah untuk mempromosikan kita kepada orang lain akan kualitas kepribadian kita. Dengan cara pandang ini, setiap ada masalah, berarti Allah memberikan sinyal bahwa ada yang harus kita perbaiki, ada yang harus kita luruskan dalam kehidupan kita. Dengan begitu, masalah menjadi pemicu semangat untuk bersegera melakukan introspeksi dan mereformasi kehidupan keberagamaan kita.
2. Masalah adalah media peningkatan derajatsesuai kadar usaha atau perjuangan kita. Dalam QS. Al-Insyiqaq: 6 Allah berfirman:
يا ايهاالانسان انك كا دح الى ربك كدحا فملقيه
“Hai manusia, sesungguhnya kamu sudah berkerja untuk TuhanMu dengan sungguh-sungguh, maka kamu akan menemuinya (kelak di hari kiamat)”
Setiap manusia memiliki kadar kesungguhan yang berbeda. Usaha atau ikhtiar yang dilakukan antara satu orang dengan yang lain juga berlainan. Perbedaan ini berkonsekuensi logis pada pendapatan atau hasil yang diraih. Logikanya, semakin besar kadar kesungguhannya dalam berikhtiar, maka potensi yang diterimanya juga semakin besar, begitu sebaliknya. Cara ini juga yang Allah lakukan ketika memberi masalah kepada kita. Amanah yang besar, baik berupa rizki, jabatan, atau yang lain hanya akan Allah berikan kepada orang yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan besarnya amahah tersebut. Oleh karena itu Allah memberikan masalah itu untuk menentukan siapa yang layak untuk mendapatkan amanah yang besar. Dengan demikian masalah yang dikirim kepada kita adalah sinyal bahwa Allah akan menaikkan derajat kita, dan derajat yang tinggi tentu akan diiringi dengan kenikmatan yang tinggi. Jika kita berhasil menghadapi masalah dan menyelesaikannya dengan baik, maka kita bersiap untu menerima amanah yang lebih besar dari Allah. Datangnya masalah harus kita syukuri, karena itu artinya Allah sudah menyiapkan kita di posisi yang lebihbaik dari sekarang.
3. Allahmenyediakan jalan keluar atas suatu masalah.
Sebagai Pencipta, Allah sangat faham dengan batas kemampuan yang kita miliki, oleh karena itu Allah memberikan masalah juga sesuai dengan batas kemampuan yang kita miliki. Cara pandang seperti ini akan membuat kita berpikir optimis, bahwa tidak adamasalah yang tidak ada jalan keluarnya. Sehingga upaya yang harus kita lakukan adalah berikhtiar mencari jalan keluar, yang juga sudah disediakan oleh Allah. Di dalam Al-Qur’anAl Baqarah 45Allah menjelaskan:
واستعين بالصبر والصلوة وانها لكبيرة الا على الخشعين
“dan mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan salat, dan sesungguhnya hal itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu”
Ayat ini adalah panduan kita dalam menyelesaikan masalah, yaitu ikhtiar dan berdoa. Sikap Sabar diimplementasikan dengan cara menyelesaikan masalah secara procedural, tidak melanggar aturan, dan tidak mengambil jalan pintas. Usaha atau ikhtiar menyelesaikan masalah harus tetap dalam koridor kebenaran, kebaikan, dan kemaslahatan. Benar prosedurnya, baik caranya, dan bermaslahah hasilnya. Aspek yang tidak kalah penting adalah konsistensi dalam beribadah. Adanya masalah seharusnya semakin menjadikan kita intensif berkomunikasi dengan Allah, memperbanyak ibadah dan amal salih, sehingga hati dan jiwa kita akan menjadi tenteram. Dengan demikian sabar dan salat sebenarnya adalah pemaduan antara rasionalitas dengan spiritualitas, antara akal sehat dengan jiwa yang sehat juga. Jika keduanya kita fungsikan, maka jalan keluar dari masalah tersebut akan lebih cepat kita dapatkan.Oleh karena itu sangat naïf jika kita menemui masalah lalu berpikir bahwa ini terlalu besar untuk kita, bahwa kita tidak mampu memecahkannya.
4. Dimana ada kesulitan disitu ada kemudahan, sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Alam Nasyrah:
فان مع العسر يسرا ان مع العسر يسرا
“sesungguhnya di dalam kesulitan itu ada kemudahan”
Ada hal penting yang patut kita renungkan, bahwa ketika kita menghdapi masalah atau kesulitan, maka secara tidak sadar ada kemudahan yang kita dapatkan pada aspek yang lain. Terkadang kita tidak menyadarinya karena focus kita pada kesulitan yang ada, sehingga menafikan bahwa pada saat yang sama ada kemudahan yang kita rasakan. Cara pandang ini menjadikan kita terhindar dari sikap putus asa, karena putus asa merupakan bentuk kekufuran kita terhadap nikmat Allah. Adanya kesulitan mestinya semakin memacu kita untuk menemukan kemudahan yang dating bersamanya untuk kemudian mensyukurinya. Jika focus kita pada pencarian kemudahan yang dikirimkan Allah, hal itu akan mengalihkan perhatian kita dari kesulitan yang kita hadapi.
Hal terbaik yang perlu kita lakukan adalah mengubah cara pandang terhadap setiap masalah yang kita hadapi. Masalah bukanlah sesuatu yang kita keluhkan atau kita ratapi, tetapi mestinya kita syukuri, karena kehadirannya menjadi pertanda bertambahnya kenikmatan dan derajat kemanusiaan kita. Dengan bersyukur berarti kita membuka kunci bagi bertambahnya nikmat, tetapi jika kita kufur, berarti kita mengunci pintu nikmat kita sendiri.Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan untuk mengubah cara pandang kehidupan kita, serta kekuatan untuk senantiasa taat dan tunduk kepadaNya. Amin.