Kenikmatan Yang Terlupakan

KENIKMATAN YANG TERLUPAKAN

Oleh: Dr. Ali Sodiqin, M.Ag

Ketika berbicara tentang kenikmatan, yang terlintas dalam benak kita adalah berbagai kelebihan yang kita miliki atau keadaan kita inginkan, seperti kesehatan, kekayaan, kepandaian, ketampanan dan sebagainya. Sehingga ketika kita tidak menjumpai keadaan-keadaan tersebut, maka kita mengatakan sedang mendapatkan derita. Kenikmatan selalu diidentikkan dengan kelapangan sedangkan derita disimbolkan dengan kesempitan. Cara pandang seperti ini tentu saja mendistorsi makna dan substansi kenikmatan, sekaligus menjadikan kita lupa akan kenikmatan yang hakiki dan melekat dalam diri kita sepanjang hayat, bahkan sejak kita diciptakan sebagai manusia.

Dalam kitab Al Hikam, hikmah ke 107 dan 108, Imam Ibn Atho’illah as Sakandary menuliskan:

نِعْمَتاَنِ ماَ خَرَجَ موْجُودٌ عَنْهاَ ولاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكـَوِّنٍ مِنْهُما نِعْمةُ الاِيْجادِ وَنِعْمة ُالاِمْداَد

“ada dua nikmat yang tidak ada satu makhlukpun terlepas dari keduanya, yaitu nikmat ciptaan (diwujudkan) dan nikmat kelanjutan”

اَنْعَمَ عليكَ اوَّلاً بِالاِيجَادِ واثاَنياً بِتَوالى الاِمدادِ

“Allah pertama kali memberi nikmat kepadamu dengan menciptakan kamu, dan kali keduanya melengkapi kebutuhanmu”

Setiap makhluk diberikan dua jenis nikmat oleh Allah, yaitu: nikmat al Ijad dan al Imdad. Nikmat Al Ijad adalah nikmat diciptakan Allah, dari tidak ada menjadi ada. Semua makhluk awalnya tidak ada. Kewujudannya adalah bergantung pada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al A’la ayat 1-3:

سبح اسم ربك الاعلى الذي خلق فسوى والذي قدر فهدى

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan lalu menyempurnakan (ciptaanNya), yang menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk”

Nikmat pertama manusia memperoleh taraf khalaq, kenikmatan sebagai makhluk ciptaan Allah. Inilah kondisi pertama yang harus kita sadari dan kita akui sebagai nikmat yang tak terbantahkan. Menjadi manusia, makhluk Allah yang paling mulia, adalah kenikmatan besar. Kita ditakdirkan Allah menjadi khalifah, agen pembawa perubahan, makhluk yang diberi kewenangan membangun peradaban, sebuah amanah yang tidak diberikan kepada makhluk lain, bahkan kepada malaikat sekalipun, makhluk yang digaransi ketaatannya kepada Allah.

Nikmat menjadi manusia karena kita telah diberi jasmani yang ahsan, akal pikiran dan dimuliakan oleh Allah. Kita bisa merasa, bisa berfikir, bisa mengekspresikan dengan sempurna. Dengan bekal kesempurnaan tubuh, akal dan fitrah yang diberikan Allah, kita dapat melakukan banyak hal yang mendatangkan manfaat bagi diri kita, orang lain, dan lingkungan kita. Dengan kemampuan akal, kita juga dapat menelaah ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah maupun kauniyah, untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera, sebagai bagian dari pelaksanaan kewajiban kita sebagai khalifah. Banyak hal bermanfaat yang dapat kita lakukan sebagai manusia. Inilah nikmat yang sering tidak kita sadari dan tidak kita akui. Allah sudah memastikan nikmat menjadi manusia tersebut dalam QS Al Isra ayat 70:

لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Nikmat kedua adalah nikmat Al Imdad, yaitu nikmat diberikan kelanjutan hidup, dengan dipenuhi berbagai kebutuhan agar kita mampu bertahan hidup. Pada taraf ini manusia menempati taraf abd, yaitu hamba yang mempunyai tuan yang menguruskan hidupnya. Nikmat al imdad mengindikasikan adanya dua kepastian: pertama, kepastian adanya jaminan kelangsungan hidup manusia. Kepastian jenis pertama ini merupakan konsekuensi dari adanya nikmat al Ijad, atau nikmat penciptaan. Allah menciptakan kita, maka Allah juga menjamin kelangsungan hidup kita di dunia. Dalam QS Hud ayat 6 Allah menyatakan:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”.

Jaminan ini menjadikan kita hidup dengan penuh optimis, karena kita tidak akan pernah berpikir bahwa Allah tidak memenuhi kebutuhan hidup kita. Sikap optimis ini hanya bisa tumbuh jika di dalam diri kita sudah bersemai keimanan, keyakinan akan adanya jaminan Allah tersebut. Disinilah pentingnya kedudukan iman pada diri kita, sebagai nikmat yang besar, karena iman menentukan cara pandang kita terhadap dinamika kehidupan.

Kedua, kepastian bahwa kita adalah makhluk yang bergantung kepada Allah. Kondisi ini menyadarkan kita bahwa apapun yang kita miliki adalah karunia, pemberian Allah, sehingga tidak patut kita pamerkan dan tidak perlu kita sombongkan. Kewajiban kita adalah selalu menjaga hubungan baik dengan Allah, karena kita bergantung padaNya. Dan cara terbaik menjaga hubungan tersebut adalah dengan selalu berada dalam ketaatan kepadaNya. Ketaatan kepada Allah bukanlah pilihan, tetapi keharusan.

Ketaatan kepada Allah harus muncul dari kesadaran bukan karena keterpaksaan. Seringkali ketaatan kita muncul karena adanya situasi yang tidak kita inginkan, seperti kemiskinan, kesempitan, kekecewaan, kegagalan. Ketika situasi itu berlalu dan kita berada dalam posisi yang kita inginkan, maka ketaatan itu perlahan menjadi berkurang atau bahkan hilang. Inilah model ketaatan yang harus kita hindari. Ketaatan harus muncul karena kesadaran bahwa kita butuh Allah, kita bergantung kepada Allah, sehingga sepanjang kita menjadi manusia, maka ketaatan itu adalah sebuah keniscayaan. Inilah ketaatan profesional, ketaatan yang berbasis pada keikhlasan melakukan perintah dari Zat yang mencipta dan menjamin kelangsungan hidup kita.

Nikmat Al Ijad dan Al Imdad mengajarkan kita pada kesadaran sekaligus pengakuan bahwa keberadaan kita karena diciptakan Allah dan tidak bisa hidup tanpa pertolongan Allah. Apa yang kita miliki, termasuk keimanan, bukanlah hasil kecerdasan kita, tetapi karena pertolongan Allah. Setiap abd disediakan ketentuan untuknya dan tidak ada abd lainnya yang dapat menghalangi dari menikmati apa yang telah Allah peruntukkan baginya. Tuhan tidak mungkin membiarkan manusia begitu saja. Setiap hamba mendapatkan layanan adil dari Allah tanpa mempertimbangkan apakah mereka ahli taat atau ahli maksiat. Nikmatnya diberikan merata kepada semua makhlukNya. Dan makhluk yang paling beruntung adalah manusia yang menyadari dan mengakui nikmat penciptaan dan nikmat kelangsungan hidup.

Wallahu a'lam bissawab

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler