Berpuasa Lisan Di Era Medsos

PUASA LISAN DI ERA MEDIA SOSIAL

Oleh: Muhammad Rizal Qosim, M.Si

(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Syariah, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Istilah media sosial (medsos) sudah tidak asing lagi bagi para pencinta teknologi modernitas. Medsos telah menjadi penyalur bahasa lisan keseharian masyarakat dalam bercakap-cakap, berbagi rasa, berbagi cerita dan berbagi informasi. Lebih dari itu, medsos bahkan telah menjadi media positif (digital ethic) bagi sistem pembelajaranonline.

Diharapkan di bulan puasa Ramadhan yang penuh barokah ini umat Islam yang sedang berpuasa hendaklah menggunakan medsos untuk tujuan kebaikan dan semampu mungkin menghindari kata-kata buruk dan kotor dalam bertutur kata di medsos. Tutur kata kotor, menebar kebencian, caci maki dan penghinaan atau menebar berita hoax tentu sangat merugikan dan akan merusak bahkan akan mengurangi nilai ibadah puasa Ramadhan yang sedang dijalani.

Sampai saat ini, sejauh penelusuran penulis melalui media online, pengguna medsos hampir digunakan oleh separuh penduduk dunia. Pengguna dengan jumlah terbanyak adalah Cina (911,92 juta), India (439,42 juta)dan Amerika (270 juta). Indonesia sendiri menduduki urutan nomor 4 dunia. Berdasarkan laporan pemberitaanMediaindonesia.com, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan, penggunaan internet di Indonesia sangat tinggi. Hal itu didorong oleh tarif internet yang murah, dan banyaknya jumlah pengguna ponsel pintar mencapai 167 juta orang atau 89% dari total penduduk Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ahmad M Ramli, sebagaiamana diberitakan olehmediaindonesia.comdalam diskusi Satu jam berbincang tentang Polemik UU ITE di Unpad.

Memang harus diakui bahwa dengan menggunakan medsos, dunia terasa sempit dan tidak lagi bersekat. Semua yang jauh terasa menjadi begitu dekat bahkan harus diakui pula bahwa hampir semua aktivitas masyarakat dan negara dapat dilakukan dengan menggunakan medsos. Medsos yang maksudkan di sini adalah seperti Whatsapp , Facebook dan Instagram. Dengan media ini, maka tidak heran apabila kegiatan keagamaanpun banyak dilakukan melalui medsos, seperti ceramah online, doa online, lebaran online, dan tahlil online. Masyarakat muslim dengan mudah belajar tentang bagaimana berdo’a dengan baik dan mengaji al-Qur’an yang fasih melalui medsos.

Oleh sebab itu, hendaknya di bulan puasa Ramadhan ini, medsos yang selama ini sering disalah gunakan penggunaannya (dijadikan sebagai alat ujar kebencian dan hoax), harus dijadikan sarana komunikasi sosial yang bernilai positif yang mendatangkan manfaat bagi orang banyak. Medsos jangan dijadikan sarana mengumbar kebencian dan caci maki atau perkataan buruk yang mengakibatkan kerugian (mafsadat) pada diri sendiri dan juga orang lain. Sesuai dengan kaidah yang menyatakan bahwa “sesuatu yang mendatangkan kemadharatan hendaklah dibuang saja”. Demikian juga ada kata pepatah mengatakan bahwa “mulutmu harimaumu”. Artinya, tiap Muslim harus menjaga perkataan maupun lisannya agar tidak mudah mengumpat, memfitnah maupun mengumbar perkataan yang tidak baik, sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad saw “Salamatul insan fi hifdhi lisan“ yang artinyakeselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.

Ajaran Islam tentang pentingnya menjaga lisan dapat menjadi renungan agar hati-hati dalam berkomunikasi sosial, terutama di bulan puasa seperti sekarang ini. Menjaga lisan bukan sebuah perkara mudah, terutama saat berhadapan dengan orang lain. Terkadang dengan mudah kita mengucapkan kata kata yang kotor, penghinaan dan pembohongan. Oleh karena itu, penting untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Terkadang kekhilafan dalam bertutur kata bisa merusak hubungan keakraban, baik dalam keluarga, antara teman sejawat atau satu profesi yang sama.

Tak sedikit orang yang mudah terluka karena omongan orang lain. Maka dari itu, seorang muslim sepatutnya mampu menjamin keselamatan muslim lainnya dari bahaya lidahnya. Tidak mudah menyembuhkan hati yang tergores karena ucapan. Meski tak berbekas, akan selalu terngiang, bahkan hingga akhir hidupnya. Itulah mengapa penting untuk menjaga lisan. Bahkan, ada yang mengatakan lebih baik diam, jika tidak mampu berbicara baik. Jadi, penting menggunakan lisan untuk hal-hal yang bermanfaat seperti berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur'an serta berbicara kebaikan lainnya.

Terdapat banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan pesan yang datang dari Rasulullah SAW agar masyarakat muslim lebih hati-hati dalam menggunakan lisan. Diantaranya adalah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ .ُ

“Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."(HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

عليك بطول الصمت فإنه مطردة الشيطان وعون لك علي أمردينك

"Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu." (HR. Ahmad)

Di dalam QS. Annisa ayat 114 Allah SWT berfirman:

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

"Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar." (QS. An-Nisaa'[4]: 114).

Ayat tersebut memberikan pelajaran dan nasehat kepada masyarakat muslim untuk lebih berhati hati dalam menggunakan lisan, agar tidak terjerumus ke dalam perkataan buruk.Di bulan puasa Ramadhan seperti sekarang ini, umat Islam dianjurkan untuk menggunakan lisannya dalam kebaikan; seperti mendaras dan membaca Al-Qur’an. Disamping itu, umat Islam juga dianjurkan untuk bersadaqah, berinfak dan juga memperbanyak dzikir mengingat Allah SWT.

Ketika menggunakan medsos sebaiknya mengunggah kata kata yang lebih bermanfaat dari pada menposting hal-hal berbau keburukan. Unggahan positif yang dimaksud seperti memposting amalan amalan tahmid dan tahlil, salawat dan informasi puasa yang menyenangkan. Bukan sebaliknya, mengumbar kata-kata yang menyakitkan bagi pendengaran atau pembacaan orang lain. Sangat besar dosa bagi pengunggah kata-kata kotor dalam medsos karena bisa jadi kata kata itu membuat orang merasa terhina, tersinggung dan sakit hati. Sesungguhnya seseorang hamba yang mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat (HR. Muslim No. 2988).

Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan bagi umat Islam yang sedang berpuasa Ramadhan, dan umumnya kepada masyarakat untuk dapat menggunakan medsos sebagai sarana teknologi komunikasi berwawasandigital ethicdengan mengurangi komunikasi yang buruk, kotor serta hoax dan juga ujar kebencian. Semoga amal ibadah kita tidak terkurangi nilanyai di hadapan Allah SWT.

Wallahua’lam bissawab.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler