Bagi Takjil Ramadhan: Eksistensi atau Substansi?

BAGI TAKJIL RAMADHAN: EKSISTENSI ATAU SUBSTANSI?

Akmal Bashori

Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya terkandung banyak kemuliaan, dengan puasa sebagai ibadah yang paling diperhitungkan pada bulan ini. Disamping Alqur’an diturunkan pada bulan ini, Ramadhan juga menawarkan big promo, dimana pahala diobral besar-besaran, walaupun kata emak-emak baju lebaran tidak ada kata diobral lho mas, justru naik…hehe. Obral pahala inilah yang memicu spirit khalayak Muslim berlomba-lomba memburu serta mengais obral pahala tersebut. Betapa tidak! wong melakukan kebaikan satu dilipatkan menjadi seratus, ibarat “beli satu dapat serratus” siapa yang tidak gegap gempita menyerbunya? dan begitu juga sebaliknya. Sementara puncak obral besar-besaran pahala ini diperuntukkan tidak untuk semua orang, hanya bagi kamu yang beruntung saja yang memperolehnya.

Obral ini yang biasa disebut sebagai “lalilatul qadar” surplus hadiah pahala seribu bulan “alfi syahrin.” Masyarakat Jawa menyebut ini sebagai “qodaran” (mendapat kebaikan berlipat), meski kemudian istilah ini menjadi bahasa (antropologi) untuk menyebut kebaikan yang didapat dari siapapun. Berbahagialah kamu yang mendapatkan “qodaran” ini.

Untuk mengais obral pahal tersebut, masyarakatmengekspresikannya dengan sangat amat beragam, sesuai kemampuan, karena lomba di bulan Ramadan ini katanya tidak ada kalah-menang. Ada yang diikuti dengan memperbanyak amalan tadarus Alqur’an setiap waktu, bahkan khatam 30 juz berkali-kali, seperti Imam Shāfi’ī yang pada hari biasa hanya khatam 1x perhari, pada bulan Ramadan beliau khatam 30 juz 2 x sehari. Ada pula juga yang memperbanyak ibadah salat sunnah malam, I’tikaf di masjid, dan wiridan. Tidak sedikit yang mengekspresikan secara suka cita dengan ibadah yang konon katanya solidaritas sosial, dengan banyak bersadaqah: santunan panti asuhan, bagi takjil di jalan-jalan, dan sebagainya.

Model yang disebut terakhir ini setiap Ramadhan selalu ada, baik dari kalangan masyarakat/mahasiswa/lembaga baik atas nama apa pun dan dengan niat bagaimana pun itu. Sejak lama hal semacam ini menggelayut dalam akal budi yang agaknya kurang “sreg”. Entah sejak kapan pula model “ibadah” yang sasarannya tidak jelas seperti ini tiba-tiba “njedul” (muncul) di Indonesa. Mereka bangga ketika takjil yang disuguhkan laris manis, melebihi kebahagiaan pedagang yang menggratiskan dagangannya karena tidak laku. Mereka memaksa pengendara yang sedang melaju hilir-mudik mengambil takjil yang disuguhkan. Mulai dari para pejalan kaki, pengedara sepeda motor, atau bahkan pengendara mobil juga ikutan menerimanya.

Apakah mereka betul betul membutuhkan?Atau sesungguhnya mereka yang datang/lewat sudah mempunyai tujuan masing-masing dan mereka sudah mempunyai daftar mau “ngabuburit” atau beli apa yang sudah dianggarkan dari rumah. Katakanlah ada yang betul-betul membutuhkan, tapi saya yakin bahwa dari 1000 orang misalnya, hanya segelintir dari mereka yang benar-benar membutuhkan.

Memang Allah SWT mencatat setiap niat baik yang kita dentumkan, tapi bagaimana jika niat kita tidak tepat sasaran meskipun baik? Apakah ini hanya untuk menunjukkan eksistensi semata? Bukankah perintah-Nya yang menjadi sasaran prioritas adalah “fuqara-masakin” (Q.S. 9: 60), bukan yang sasarannya tidak jelas, apa lagi yang berpunya alias “aghniya”. Dan bukankah Allah SWT justru memerintahkan berkolaborasi mencari solusi dengan para hartawan (Q.S. 9: 103)?

Sementara di luar sana banyak keluarga, para lansia yang hidup serba kekurangan. Jangankan pergi ke jalan, untuk jalan saja susah, memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun susah, tapi yang seperti itu apakah kita cukup tahu dan tidak peduli? Di sini pentingnya nurani, tidak hanya sekadar formalitas sadaqahan sich, karena nurani menempatkan totalitas kemanusiaan seorang. Nurani yang dianugerahkan agama mestinya dibarengi dengan tanggung jawab nurani itu sendiri (Q.S. 75: 14-15).

Cobalah sesekali jalan, blusukan ke tengah-tengah masyarakat desa atau tengok kanan-kiri tetangga kita yang betul-betul membutuhkan, dari pada bagi-bagi takjil di jalan dengan sasaran orang yang tidak tepat. Atau bahkan sebetulnya yang kita beri takjil di jalan adalah mereka orang yang tidak butuh tadi? Padahal Imam Syaukānī dalam “Nailu al-Auṭār” pernah mentranmisikan ḥadīs nabi Saw: “lā taḥillu as-ṣadaqatu lighoniyyin wa lā lidī mirratin sawiyyin” (sadaqah itu tidak halal [diberikan] bagi orang yang kaya dan bagi orang yang mampu bekerja). Nah kan!

Maka...

Lihat dengan (hati) nuranimu (jangan dengan logika) dan pandangilah mereka: tetanggamu, para lansia yang kulitnya sudah keriput karena penuaan, usianya sudah tidak lagi muda, tidak sekuat dulu lagi. Mereka hanya bisa mencari rizki ala kadarnya. Anak-anak mereka juga boleh jadi kurang beruntung secara ekonomi, sama-sama susah. Beli susu buat anaknya juga kesusahan, menyekolahkan anaknya apalagi, susah setengah mati. Bayangkan jika itu adalah orang tua kita, atau kita sendiri!

Wahai “Nurani” dimana engkau berada?

Mari kita berhitung, misalnya saja 1 paket takjil setara dengan 10 ribu rupiah, tiap pos yang membagikan rata-rata 500 paket, berarti 10.000 x 500= 500.000. Uang sebanyak itu jika betul-betul tepat sasaran dibelikan sembako katakanlah per paket 50.000,maka akan ada 10 orang/keluarga yang betul-betul membutuhkan memperoleh haknya sebagaimana firman Allah di atas. Bagaimana menurut kalian?

Dan inilah substansi sadaqah, yakni berbagi kepada orang-orang yang betul-betul membutuhkan. Secara psikhologi, ketika kita memberikan sadaqah, dengan mendatangi kediamannya, mereka dengan tulus mengucapkan terimakasih, dengan mata yang berkaca-kaca. Di situlah kita merasakan kenikmatan pahala (surga) yang sesungguhnya.

Kalau masih juga hatimu pengin eksis, silahkan foto atau vidio kemudian upload di sosmed, you tube gaes! Asal substansi sadaqah sampai kepada yang berhak.

#Mari berbagi dengan tidak mengabaikan substansi.

Kalibeber, 17 Ramadan 1444 H

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler