Meneladani Nabi, Menyemai Rahmat bagi Sesama

MENELADANINABIMENYEMAI RAHMAT BAGI SESAMA

Dr. Ali Sodiqin, M.Ag

(Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Bulan Rabi’ul Awaladalahbulan yang memiliki keistimewaan bagi umat Islam, sehingga pada bulan ini umat Islam memiliki agenda khusus untuk menghormati sebuah peristiwa penting, yaitu kelahiran Nabi Muhammad saw.Terdapat beberapa tradisi yang sudah berjalan dan mengakar di kalangan umat Islam, seperti peringatan maulid nabi, salawatan, dan membaca kitab barzanji.Bahkan Keraton Kesultanan Yogyakarta memiliki tradisi sekaten dan grebeg mulud yang dilaksanakan pada bulan Rabi’ul Awal.

Keberadaan tradisi-tradisi tersebut menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia sangat mencintai nabinya, yang diwujudkan dengan melakukan kegiatan sebagai bukti nyata atas kecintaan tersebut. Oleh karena itu, kita tidak perlu mempermasalahkan lagi tentang keberadaan tradisi-tradisi tersebut, karena niat dan tujuannya baik, yaitu meluapkan kegembiraan atas kelahiran manusia pilihan Allah, yaitu Rasulullah Muhammad saw.

Jika kita belajar dari kisah seorang budak Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah, yang karena kegembiraannya menyambut kelahiran Rasulullah Saw, maka diapun dibebaskan oleh Abu Lahab dan menjadi orang merdeka. Ini adalah sebuah pelajaran bahwa sejak lahir Rasulullah sudah memberikan berkah kepada orang yang bergembira atas kelahirannya, maka sudah semestinya kita sebagai umat Islam juga bergembira memperingati maulid Nabi. Namun yang perlu diingat adalah, kegembiraan tersebut harus didasari oleh kecintaan kepada Rasulullah, diwujudkan dengan meneladani akhlak mulianya, dan menjalankan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari hari.

Diutusnya Rasulullah Muhammad saw adalah sebagai bukti kebenaran. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Al Bayyinah ayat 1-3:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُرَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةًفِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ

orang orang yang kafir dari golongan ahlil kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama) mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata. Yaitu seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Alquran).Di dalamnya terdapat kitab kitab yang lurus”.

Ayat ini secara tegas menjelaskan bahwa kehadiran Rasulullah adalah untuk memberikan bukti kebenaran kepada orang-orang yang ingkar terhadap agama Islam, yaitu dari kalangan orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Kitab suci Alquran yang dibawa oleh Rasulullah juga menyebutkan kandungan dari kitab-kitab sebelumnya, sebagai bukti kebenaran bahwa Alquran bersumber dari Allah. Oleh karena itu Rasulullah Muhammad saw dan kitab suci Alquran adalah dua bukti kebenaran yang harus kita yakini, kita pelajari dan kita amalkan dalam kehidupan sehari hari. Segala yang disampaikan oleh Rasulullah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, adalah wujud implementasi dari ajaran-ajaran Allah yang terdapat di dalam Alquran. Sehingga jika kita ingin melaksanakan ajaran-ajaran Alquran,maka teladanilah kehidupan Rasulullah.

Sebagai manusia pilihan, Rasulullah merupakan teladan yang terbaik bagi semua manusia. Allah mengutusnya sebagai rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk makhluk yang bernama manusia saja, tetapi juga untuk makhluk Allah yang lain, baik yang berupa makhluk hidup (seperti hewan dan tumbuhan) atau benda mati (gunung. Laut, sungai, dan sebagainya). Oleh karena itu sebagai umatnya, kitapun wajib menjadi rahmat bagi manusia dan alam di sekitar kita. Perintah meneladani Rasulullah disebutkan dalam QS Al Ahzab 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat dan orang yang banyak mengingat Allah”.

Ayat di atas memberikan satu jaminan kepada umat manusia, bahwa jika mereka ingin menjadi orang baik, berbahagia dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, maka teladanilah Rasulullah.Dengan meneladani Rasulullah berarti mengharap keridhaan Allah yang merupakan Zat yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

Meneladani Rasulullah adalah dengan cara melestarikan ajaran ajarannya. Rasulullah telah mengajarkan banyak hal dalam kehidupan kita, baik sebagai pribadi, sebagai suami, sebagai orang tua, dan sebagai pemimpin umat. Oleh karena itu dalam kehidupan ini kita pun seharusnya meniru apa yang diajarkan Rasulullah sesuai dengan posisi dan kondisi yang kita alami. Kunci dari semua teladan Rasulullah adalah pada kemuliaan akhlaknya. Hali ini ditegaskan dalam firman Allah QS Al Qalamayat4:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar benar berbudi pekerti yang luhur”.

Akhlak mulia menjadi kunci keteladanan Rasulullah. Dalam segala aktivitasnya, berhubungan dengan siapapun, Rasulullah selalu mengedepankan akhlak mulia. Kepada kaum dhuafa, kaum yang belum berpengetahuan, kaum yang ingkar, Rasulullah tetap berkomunikasi dan berinteraksi dengan akhlak yang mulia. Dengan akhlak mulianya itulah pada akhirnya Rasulullah menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitarnya dan juga rahmat bagi seluruh manusia bahkan alam semesta. Inilah hal terpenting yang harus kita lihat ke dalam diri kita. Apakah kita sudah mengedepankan akhlak mulia kepada tetangga, kepada saudara, kepada orang yang berada di bawah kita, kepada kaum dhuafa? Apakah kita sudah mampu menjadi teladan bagi anak kita, istri kita, saudara dan tetangga kita?. Dan yang perlu kita ingat bahwa kemuliaan akhlak adalah puncak keislaman kita, yaitu ihsan. Sepintar apapun pengetahuan kita tentang ajaran Islam jika tidak dilandasi dengan akhlak mulia, maka kita belum berislam yang sebenarnya. Marilah kita jadikan akhlak mulia sebagai landasan perbuatan kita, landasan kehidupan kita sebagai upaya kita meneladani Rasulullah.

Hal terpenting yang juga harus kita lakukan sebagai bukti kecintaan kepada Rasulullah adalah memperbanyak salawat. Hal ini sudah disebutkan Allah dalam QS. Al Ahzab 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamuuntuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”.

Jika Allah saja dan para malaikat bersalawat untuk Nabi, mestinya kita lebih penting lagi untuk membaca salawat, karena kita adalah umatnya, yang seharusnya lebih wajib untuk bersalawat kepada Rasulullah. Salawat adalah doa memohon agar Allah melimpahkan kebaikan dan keberkahan kepada Nabi Muhammad, sedangkan salam artinya memohonkan keselamatan kepada Nabi. Membaca salawat dan salam sejatinya adalah mengharapkan doa yang sama untuk diri kita sendiri, karena Rasulullah adalah pribadi yang sudah berlebih kebaikan, keberkahan dan keselamatannya, karena dijamin oleh Allah. Sehinggaucapan salawat dan salam kita akan meluber dan melimpah kepada kita sendiri. Inilah manfaat kita memperbanyak membaca salawat dan salam kepada Rasulullah. Allahumma salli wa sallim 'ala sayyidina muhammad.

Marilah kita bersama meneladani akhlak muliaRasulullah dalam kehidupan kita dan memperbanyak salat kepada beliau. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan, hidayah dan taufik-Nya agar kita mampu meneladani junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler