Moderasi Beragama Berbasis Budaya

Dr. Ali Sodiqin mempresentasikan papernya di 1st ICCL

Dr. Ali Sodiqin mempresentasikan papernya di 1st ICCL

Dr. Ali Sodiqin mempresentasikan papernya di 1st ICCL

Dr. Ali Sodiqin mempresentasikan papernya di 1st ICCL

Dr. Ali Sodiqin mempresentasikan papernya di 1st ICCL
MODERASI BERAGAMA BERBASIS BUDAYA
Toleransi beragama dalam masyarakat yang multi religious dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap ajaran agama dan juga faktor sosial budaya yang melingkupinya. Di masyarakat Kaloran, falsafah agama ageming aji dan sing penting brayan merupakan hasil integrasi antara penerimaan perbedaan agama dengan keharusan menjaga harmonisasi sosial. Kuatnya masyarakat berpegang pada kearifan lokal, mengakibatkan sebagian masyarakat tidak memahami batasan eksklusif ajaran agama. Demikian pemaparan yang disampaikan oleh Dr. Ali Sodiqin, M.Ag, Kaprodi S3 Ilmu Syari’ah, Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam 1stInternational Conference on Culture and Language (ICCL) yang diselenggarakan oleh Fakultas Adab dan Budaya UIN Raden Mas Said Surakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 7-8 September 2022 di Syari’ah Hotel Solo, dengan model hybrid, daring dan luring.
Konferensi ini mengambil tema Reinforcement of Religious Tolerance in Post Pandemic Era. Para narasumber yang dihadirkan pada konferensi ini antara lain: Prof. Mun’im Sirry (University of Notre Dame USA), Prof. Dr. Mohamed Mohamed Emaam Dawood (International Instititute of Alquran Egypt, Suez Canal University Ismailia Egypt), Dr. Mahmud Syaltout, S.H., DEA (Universitas Paramadina), dan Gus Ulil Abshar Abdalla (Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta). Pada konferensi ini, Dr. Ali Sodiqin mempresentasikan paper yang berjudul “Culture-Based Religious Tolerance: A Lesson From Kaloran Society, Temanggung, Central Java”. Paper ini merupakan hasil penelitian kolaborasi antara Dr. Ali Sodiqin dengan Roehana Rofaidatun Umroh.
Dalam temuan peneliti, Budaya memiliki peran penting dalam pembangunan toleransi beragama. Bagaimana budaya suatu masyarakat dapat berkontribusi terhadap pembentukan sikap moderasi beragama, bagaimana upaya para pemeluk agama dalam mendialogkan pemahaman, penerimaan, dan penumbuhan toleransi dalam masyarakat yang multi-religius menjadi penting untuk dilakukan. Masyarakat Kaloran Temanggung Jawa Tengah memiliki komposisi religius yang unik. Semua agama resmi Indonesia memiliki pemeluk di wilayah ini. Keragaman agama ini juga terjadi dalam satu keluarga, di mana antara suami, isteri, dan anak-anaknya memeluk agama yang berbeda.
Meskipun memiliki keragaman agama, masyarakat Kaloran jarang berkonflik yang disebabkan oleh perbedaan agama. Mereka memiliki konsep “agama ageming aji” yaitu keyakinan bahwa semua agama mengajarkan keselamatan, kebaikan dan bertujuan untuk memberikan kesejahteraan. Falsafah inilah yang menyatukan keragaman agama masyarakat Kaloran dan menjadi media pembentukan moderasi beragama. Berdasarkan sensus tahun 2018, masyarakat Kaloran mempunyai komponen pluralitas agama yang unik; Islam (37.874 jiwa), Budha (5.287 jiwa), Kristen (1.994 jiwa), Katolik (308 jiwa), Hindu (5 jiwa), dan aliran kepercayaan (163 jiwa). Di Desa Kalimanggis misalnya, setiap dusun terdapat tempat ibadah seperti masjid, gereja, vihara dan tempat semedi bagi penganut aliran kepercayaan. Setiap perayaan hari besar agama, semua masyarakat dilibatkan tanpa membedakan agamanya. Semua pemimpin agama diminta memimpin doa secara bergantian.
Di masyarakat Kaloran terjadi perkawinan beda agama. Terdapat beberapa keluarga yang anggota keluarganya memeluk agama yang berbeda. Namun, perbedaan agama tidak menghalangi komunikasi dan interaksi dalam keluarga maupun masyarakat. Agama, dalam pandangan mereka adalah masalah keyakinan sehingga diserahkan kepada yang menjalani.Bagi masyarakat, agama adalah ageman (pakaian), hak beragama disamakan dengan hak berpakaian, sehingga menjadi pilihan bebas bagi setiap orang. Agama termasuk dalam domain privat, menyebabkan masalah perbedaan agama tidak perlu diperdebatkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Terjadi kulturalisasi agamadalam interaksi sosial, dengan menempatkan agama sebagai urusan individu yang harus dihormati. Agama dan budaya terintegrasi dan membentuk identitas sosial.Tradisi dan ritual agama dijadikan sebagai media komunikasi sosial. Perayaan hari besar agama menjadi momen untuk menjaga dan meningkatkan hubungan baik di masyarakat.Terdapat kegiatan lintas agama di kalangan masyarakat Kaloran. Acara tahlilan, tasyakuran, atau pengajian yang diadakan oleh orang muslim, masyarakat yang berbeda agama ikut serta menyiapkan kegiatan keagamaan tersebut.