Menjaga Toleransi dan Kerukunan Umat

MENJAGA TOLERANSI DAN KERUKUNAN UMAT DI BULAN RAMADHAN

Oleh: Maulidia Mulyani, M.H.

(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Di antara pesan penting dalam ibadah di bulan Ramadan, sikap menjunjung toleransi di antara umat beragama dan kerukunan menjadi sebuah hal yang utama. Pengabaian terhadap toleransi dan kerukunan dapat mengakibatkan perpecahan di kalangan umat beragama. Dalam ajaran Islam, toleransi disebut dengan istilah tasamuh, meskipun pada dasarnya istilah tersebut tidak selalu selaras dengan makna dari kata toleransi tersebut. Istilah tasamuh berarti tindakan tuntutan dan penerimaan dalam batas-batas tertentu. Orang yang melakukan tasamuh dalam pandangan Islam disebut sebagai mutasamihin,yang bermakna “penerima dan pemaaf sebagai tuan rumah kepada tamunya”. Secara realitas, mereka yang melakukan tindakan tasamuh ini tidaklah sepatutnya menerima saja yang akan menekan batasan hak serta kewajibannya sendiri. Dengan kata lain, tindakan maupun perilakutasamuhdalam kehidupan beragama memiliki makna untuk tidak saling melanggar atau melampaui batasan.

Dari tahun ke tahun, isu-isu yang diangkat di bulan Ramadan tidak pernah jauh berbeda. Seperti adanya penyebaran isu kebencian yang disebabkan adanya perbedaan penetapan awal melaksanakan puasa,penutupan warung-warung makan di siang hari secara paksa, dengan dalih tidak menghormati yang sedang berpuasa. Tindakan seperti itu dapat dikategorikan sebagai truth claim dalam beragama. Truth claim adalah adanya suatu keyakinan dari pemeluk agama tertentu yang menyatakan bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang benar. Sikap ini akan memunculkan tindakan menyalahkan pihak lain yang berbeda dengan keyakinannya.Namun sebaliknya, jika isu-isu tersebut tidak muncul, maka ungkapan Philip Quinn tepat digunakan, bahwa adanya tingkat keterlibatan yang tinggi pada keragaman agama, akan mengarah pada peningkatan kerendahan hati serta intelektual dalam beragama.

Bangsa Indonesia memiliki dua ciri utama, Pertama adalah keragaman, kemajemukan, tidak hanya perbedaan etnis namun juga perbedaan bahasa, suku, budaya, dan kepercayaan. Hal ini merupakan sunnatullah, yang karenanya tidak perlu lagi ada obsesi untuk menyeragamkan. Kedua, adalah ciri keberagamaannya, yakni religiusitas bangsa Indonesia. Adanya keragaman religiusitas ini patut disyukuri, karena di mana pun bertempat tinggal di Indonesia, kita akan selalu menemukan komunitas agama, di mana nilai-nilai agama tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan keseharian masyarakat. Adanya sebuah keberagaman tersebut mengapa tidak dianggap sebagai sebuah berkah? Hidupbukan tentang keseragaman saja, namun bagaimana kita bisa menjadi individu yang menghargai sebuah perbedaan.

Bulan Ramadan merupakan medium untuk menjaga spirit toleransi dan kerukunan. Hal ini karena beberapa alasan: Pertama, Tujuan utama dalam ibadah puasa adalah untuk meraih ketaqwaan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan dalam Alqur’an Surat Al-Baqarah (2) ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.

Melalui ayat tersebut, ada pesan penting untuk menjadikan setiap diri mampu menciptakan nilai taqwa.Taqwa di dalam Islam menjadi sebuah pesan dasar, yang dengan sikap kesadaran akan kehadiran-Nya akan membawa diri untuk berusaha melakukan hal-hal yang baik.Kesadaran terhadap kehadiran Allah ini semestinya mengantarkan kita untuk tidak melakukan hal-hal buruk, termasuk menjaga toleransi. Toleransi dimaknai sebagai sikap untuk saling menghormati dan menghargai atas perbedaan yang ada di antara umat manusia. Pelaksanaannya dilakukan oleh kedua belah pihak secara bersama-sama, umat yang berpuasa maupun umat yang tidak menjalankan ibadah puasa.

Kedua, menciptakan keharmonisan dengan menjunjung toleransi. ”Tolerance is liberty toward the opinions of others, patience with other”. Toleransi dimaknai sebagai memberi kebebasan atau membiarkan orang lain mengungkapkan pendapatnya dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain. Perwujudan nilai toleransi dilakukan melalui dua sikap yaitu: menghormati keyakinan lain tanpa berpretensi menyalahkan dan bekerjasama dalam bidang tertentu. Sebagai contoh dalam penentuan awal Ramadan 1443 H, terdapat perbedaan. Muhammadiyah menetapkan awal bulan puasa pada hari Sabtu, 2 April 2022, sementara NU dan Pemerintah sepakat menetapkan awal bulan puasa pada Ahad, 3 April 2022. Jika keharmonisan tidak ditanamkan demi kesatuan bangsa, maka prinsip membangun persaudaraan dengan baik tidak akan tercapai.Agama memiliki peranan yang dominan dalam menciptakan masyarakat berbudaya. Agama dapat dikatakan memainkan sebuah peran yang baik apabila mampu memberikan kepada pemeluknyasuatu gambaran nilai-nilai luhur. Sebaliknya, jika agama memegang peran ke arah negatif, maka hal ini akan menyebabkan pemeluknya terkurung ke dalam pikiran yang sempit dan menimbulkan konflik keagamaan.

Ketiga, tidak sefaham bukan alasan untuk saling bermusuhan. Keragaman dalam suatu komunitas bisa memberikan energi positif apabila digunakan sebagai modal untuk bisa bersama membangun bangsa dalam hubungan yang saling memberi dan menerima. Sebaliknya, apabila keragaman dibingkai oleh sebuah penafsiran yang bersumber pada simbol yang mengikat dan sarat akan prasangka, kecurigaan serta reduksi terhadap kelompok di luar dirinya, maka ia hanya akan menjadi penghancur struktur dan pilar kebangsaan.

Lain halnya jika ada sebuah faham keagamaan yang bersumberkan ajaran Islam, amalan-amalan dan praktik keagamaan yang mengatasnamakan Islam, namun merendahkan nilai-nilai kemanusiaan maka hal seperti ini sudah melampaui batas. Sehingga meskipun hidup dalam lingkungan yang beragam, jangan sampai ada yang melampaui batas.

Terkadang ada hal-hal yang bersifat tidak pokok dianggap sebagai sebuah prinsip. Hal yang seperti ini diserahkan ke masing-masing keyakinan,karena dari sinilah keragaman tersebut dilahirkan. Namun terhadap sesuatu yang universal, seperti membangun kemaslahatan bersama, maka hal ini menjadi inti pokok ajaran Islam. Kehadiran agama Islam adalah untuk menebarkan kemaslahatan.Tentu tidak dibenarkan jika mendakwahkan Islam dengan cara menebarkan kebencian, fitnah dan mencaci maki, atau membakar rumah ibadah. Hal seperti ini jelas tidak memanusiakan manusia serta merusak inti ajaran keagamaan.

Oleh sebab itu, kedatangan bulan Ramadan sebenarnya sarat dengan etika kesalehan sosial yang sangat tinggi. Setiap orang dituntut untuk melakukan pengendalian diri, disiplin, kesabaran, kejujuran serta menjunjung tinggi kerukunan umat. Selain itu, bulan Ramadan merupakan bulan yang erat dengan potret yang mengarah kepada eratnya keshalihan pribadi dengan keshalihan antar umat.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler