Dialektika Agama dan Sains dalam Kisah Buah Apel
DIALEKTIKA AGAMA DAN SAINS DALAM KISAH BUAH APEL
Dr. Ali Sodiqin, M.Ag
(Dosen Program Doktor Ilmu Syari’ah)
Dalam kitab sastra Arab yang berjudul Al-Aghani karya Abu Al-Faraj Al-Isbahani, diceritakan tentang kisah seorang pemuda salih bernama Tsabit bin Zutho. Suatu hari dia berjalan di pinggir sungai Kota Kufah dan melihat sebuah apel segar tampak hanyut di sungai itu. Dalam kondisi yang lapar, Tsabit pun memungut apel tersebut dan memakannya.Namun baru sekali menggigit, Tsabit tersentak. Dia merasa bersalah memakan apel tanpa izin sang empunya. Akhirnya, Tsabit memutuskan untuk bertemu dengan pemilik buah apel dan meminta kerelaannya atas apel yang sudah digigitnya itu.
Setelah berhari-hari berjalan, akhirnya dia menemukan pemilik apel tersebut. Sang pemilik kebun kagum dengan sifat kehati-hatian Tsabit dalam memakan sesuatu hingga jelas kehalalannya. Melihat kegigihan dan kesalehan Tsabit, ia pun berkeinginan menjadikannya menantu. Sang pemilik memberikan syarat kepada Tsabit, bahwa dia akan merelakan apel yang digigitnya jika Tsabit mau menikahi putrinya, yang digambarkan oleh ayahnya sebagai putri yang tuli, bisu, dan lumpuh. Demi mendapatkan kehalalan buah apel yang dimakannya, Tsbaitpun menyetujui pernikahan tersebut. Sebenarnya calon istri tersebut berparas cantik, tidak tuli, tidak bisu dan juga tidak lumpuh. Itu semua adalah gambaran kesalihahannya yang tidak pernah memfungsikan panca indera dan anggota tubuhnya untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Dari pernikahan tersebut, lahir seorang ulama shalih, mujadid yang sangat terkenal, yakni Nu’man bin Tsabit atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Imam Abu Hanifah.
Dalam cerita lain terdapat kisah buah apel yang juga menarik untuk disimak, yakni kisah Isaac Newton, seorang ilmuwan yang lahir pada4 Januari 1643 di Woolsthorpe, Lincolnshire, Inggris. Ketertarikan Newton terhadap alam semesta membuatnya berpikir, apa yang memengaruhi bulan bisa mengelilingi bumi dan bumi mampu mengelilingi matahari? Bak sebuah ilham, buah apel jatuh dari ranting pohon yang dia duduki. Menurutnya, penyebab apel jatuh adalah hal yang sama dengan penyebab bulan mengelilingi matahari dan bumi mengelilingi matahari.
Dari kejadian sederhana itu, Newton memahami bahwa sebuah benda dengan massa yang lebih besar akan menarik benda-benda dengan massa yang lebih kecil. Inilah yang menyebabkan manusia tidak melayang di udara. Sebagai pembuktiannya, dia menghitung gaya yang dibutuhkan untuk menjaga bulan tetap mengelilingi bumi dan membandingkannya dengan kekuatan yang membuat apel jatuh. Ternyata, hasilnya sama. Newton pun lantas mengenalkan teori Gravitasi kepada dunia, di mana benda-benda memiliki gaya gravitasi yang saling tarik menarik.
Dua kisah di atas menunjukkan adanya perspesi yang berbeda terhadap fenomena di alam semesta. Tsabit dan Newton memiliki pemikiran yang berbeda saat melihat buah apel. Dari pemikiran yang berbeda tersebut menghasilkan tindakan atau respon yang berbeda pula, tergantung pada sudut pandang dan perspektif keilmuan yang dimiliki. Tsabit, dengan latar belakang keilmuan agamanya, merespon buah apel yang dimakannya dengan bersegera meminta kehalalan sang pemiliknya. Hal ini didasari atas penafsirannya terhadap nash-nash agama yang dipahaminya, bahwa haram hukumnya memakan buah yang bukan miliknya. Oleh karenanya, dia pun bertekad untuk menemukan sang pemilik apel dan memohon kerelaan. Meskipun untuk melakukannya dia harus berjalan bermil-mil, yang mungkin sangat mustahil dilakukan oleh pemuda masa sekarang.
Respon berbeda dilakukan oleh Newton. Dengan latar belakang keilmuan sainsnya, dia mengamati hukum yang berlaku di alam semesta. Maka, ketika dia melihat apel jatuh di hadapannya, yang segera terlintas adalah mencari jawaban mengapa buah apel jatuh ke bawah (bumi). Jatuhnya apel adalah hasil tarikan dari benda yang memiliki massa lebih besar, bukan sebuah kebetulan. Pasti ada rumus yang dapat ditemukan melalui penelitian mendalam untuk menjawab jatuhnya buah apel ke bumi. Maka lahirlah teori grafitasi yang kita kenal hingga hari ini.
Kisah apel di tangan agamawan dan ilmuwan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Kaum agamawan mendasarkan pandangannya pada penafsiran terhadap teks keagamaan (ayat qauliyah). Di sisi lain, para ilmuwan (saintis) mendasarkan pemikirannya pada pengamatan terhadap fenomena alam (ayat kauniyah/sunnatullah). Yang pertama bergerak dari penalaran bayany sedangkan yang kedua bermula dari penalaran burhany. Namun, meskipun bergerak dari penalaran yang berbeda, hasil temuannya tidak selalu bertentangan. Bahkan agama dan sains dapat dan perlu didialektikan, melalui pola integrasi dan integrasi. Agama dan ilmu memiliki sumber yang sama, yaitu Tuhan, sehingga tidak mungkin terdapat pertentangan diantara keduanya.
Ilmu pengetahuan didasarkan pada beberapa prinsip atau metode, yaitu: (1) proposisi hanya berarti bila dapat diverifikasi dengan pengalaman indrawi; (2) pengetahuan ilmiah harus bersifat objektif; (3) sains tidak berurusan dengan fenomena yang unik (idiografis); (4) reduksionisme yakni dunia dapat diketahui dengan memecah dunia tersebut kepada satuan-satuan kecil; dan (5) determinisme, menyatakan bahwa dunia diatur hukum sebab akibat yang bersifat linier.
Pendekatan dalam pengkajian agama berlandaskan pada beberapa prinsip berikut, (1) prinsip berpikir agamis meliputi empiris-meta-empiris, rasional-intuitif, objektif-partisipatif, menggunakan secara eksplisit peran fungsi spiritual dan aksioma-aksiomanya yang dijabarkan dari ajaran agama; (2) objek telaah agama mencakup juga alam metafisis dan mengakui peranan hati dan kalbu yang bersifat metafisikal dan dianggap dapat menyentuh kebenaran hakiki yang mempunyai tujuan akhir berupa keimanan dan ketakwaan kepada Sang Maha Pencipta Alam; (3) otoritas terakhir dalam agama ada pada Tuhan dan wahyu yang dibuktikan keabsahannya dengan pengalaman penganutnya; dan (4) agama mengajukan pertanyaan-pertanyaan personal dan eksistensial, yang berkenaan dengan makna, tujuan, dan asal-usul serta nasib akhir manusia.
Metode penafsiran agama dengan metode pengamatan dalam sains dapat saling melengkapi dan menghasilkan penafsiran yang komprehensif terhadap alam semesta. Agama harus mendukung kegiatan sains, dan sebalinya temuan sains harus menghasilkan kesejahteraan umat manusia sebagai tujuan agama. Pernyataan Albert Einstein dapat menjadi renungan bersama, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.