Islam dan Mitigasi Bencana

ISLAM DAN MITIGASI BENCANA

Oleh: Dr. Ali Sodiqin, M.Ag

Salah satu bukti keteraturan hukum Allah adalah adanya kondisi yang berpasangan di dalam semua aspek kehidupan kita. Dalam hukum alam kita mengenal adanya siang dan malam, dalam hukum sosial kita mengenal laki-laki dan perempuan, dalam hukum pribadi kita juga mengenal suka dan duka, termasuk di dalamnya nikmat dan musibah. Hukum-hukum tersebut adalah keniscayaan, yang pasti terjadinya dan berjalan menurut ketentuan Sang PenciptaNya, yaitu Allah swt.

Namun sayangnya tidak setiap manusia memiliki kesiapan menghadapi pasangan hukum tersebut, seperti saat menerima nikmat dia suka dan bergembira tetapi ketika mendapatkan musibah dia sedih dan berkeluh kesah. Kondisi yang berbeda ini disebabkan oleh banyak factor, terutama sebab internal seseorang, yaitu kemampuannya memahami sumber datangnya kondisi yang menimpanya dan kekuatan imannya dalam menyikapi kondisi tersebut. Seperti saat ini, di mana masyarakat dunia ditimpa musibah, yaitu wabah virus corona, yang membuat banyak Negara, dan tentunya warga Negara, melakukan upaya semaksimal mungkin mencegah maupun mengobatinya.

Alquran telah memberikan banyak ayat tentang musibah yang dapat dijadikan panduan bagaimana melakukan mitigasi bencana. Ayat-ayat tersebut perlu dikaji lagi dan dikontekstualisasikan menjadi pedoman mengidentfikasi terjadinya bencana, mengurangi resiko korban dan kerugian, hingga menentukan langkah pencegahannya agar tidak terulang lagi di kemudian hari.

Di dalam QS Ar Ruum 41, Allah menjelaskan tentang sebab mengapa terjadi bencana:

ظَهَر الْفَسَادُ فِي ا لْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah timbul kerusakan di daratan dan lautan akibat perbuatan tangan manusia. Allah menimpakan pada mereka sebagian akibat perbuatan (dosa) mereka, mudah-mudahan mereka akan kembali (ke jalan yang diridhai Allah swt).

Ayat di atas memberikan panduan tiga hal: pertama, bahwa sumber bencana adalah aydin naas, yang dapat diartikan ulah manusia, baik melalui perbuatan warga Negara maupun kebijakan Negara. Bencana adalah kerusakan terhadap sunnatullah, keseimbangan alam maupun social. Jika terjadi bencana maka langkah pertama adalah menemukan faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam maupun sosial yang terjadi dan membenahinya. Hal ini seharusnya melahirkan kajian ilmiah terhadap hokum alam dan hukum social, yang menuntut umat Islam untuk belajar dan menjadi ahli yang menguasai bidang tersebut.

Perbuatan manusia yang menjadi sebab datangnya bencana juga ditegaskan dalam QS. Asy-Syuraa: 30:

كَثِيرٍ عَنْ وَيَعْفُو أَيْدِيكُمْ كَسَبَتْ فَبِمَا مُصِيبَةٍ مِنْ أَصَابَكُمْ وَمَا

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Ayat ini menjelaskan bahwa bencana yang terjadi hanyalah sebagian kecil akibat kesalahan manusia, karena sebagain besar kesalahan manusia diampuni oleh Allah. Maka manusia tetap harus bersyukur karena semua kesalahan mereka tidak ditimpakan menjadi bencana bagi diri mereka sendiri.

Kedua, bencana adalah cara Allah menunjukkan kesalahan sebagian manusia pelaku kerusakan. Bencana adalah tanda bagi dua pihak, pihak terdampak dan yang tidak terdampak. Bagi pihak terdampak, bencana adalah alarm untuk menghentikan sikap destruktif atau merusak, yang bias jadi tidak disadari oleh pelakunya karena terlalu sering dilakukannya. Bagi pihak yang tidak terdampak, maka bencana adalah alarm untuk mengevaluasi perilaku maupun kebijakan, agar bencana tidak terjadi di wilayahnya.

Ketiga, bencana adalah cara memulihkan keseimbangan hukum alam, sebagaimana disebut di akhir ayat, la’allahum yarji’un, agar mereka kembali ke jalan Allah, jalan yang benar, menjaga keseimbangan sunnatullah, sehingga menghasilkan kehidupan yang penuh rahmat.

Di dalam QS Al Hadid 22-23 Allah menjelaskan tentang sumber bencana:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ* لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(22) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.(23).

Ayat ini memberikan panduan cara menyikapi bencana agar tidak menjadi bencana lanjutan. Pertama, hadirnya bencana, baik yang menimpa alam, social, maupun pribadi manusia adalah kehendak Allah, atas ijin Allah, takdir Allah. Oleh karena itu kita tidak boleh meyalahkan pihak lain atas apa yang menimpa diri kita, karena meskipun ada pihak yang dianggap sumber bencana, tetapi terjadinya bencana tetaplah dalam kuasa Allah, bukan kuasa manusia. Pemahaman ini sangat penting, agar bencana menjadi alat muhasabah diri, mengevaluasi diri, bukan malah menimpakan kesalahan kepada pihak lain. Jika setiap anggota masyarakat melakukan muhasabah terhadap dirinya, maka mereka akan bergegas melakukan perbaikan diri bersama sama, memperbaiki perilaku pribadi dan sosialnya, sehingga lingkungan kehidupan di sekitarnya akan kembali damai.

Kedua, hadirnya bencana adalah cara Allah memperbaiki lahir dan batin kita, agar kita menjadi manusia yang seimbang jiwa raganya, tidak mudah terpengaruh oleh kondisi sekitar, tetap focus pada tujuan hidup, sehingga terhindar dari sikap sombong dan arogan, sebagaimana disebut di akhir ayat yang ke 23.

Kandungan ayat diatas ditegaskan lagi oleh Allah dalam QS At-Taghaabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat ini memberikan panduan tentang cara menghadapi hadirnya bencana, yaitu meyakini bahwa bencana adalah kehendak Allah untuk memperbaiki kehidupan manusia. Keyakinan itulah yang akan menggerakkan orang untuk segera bangkit dari musibah, memiliki sikap optimis dalam menghadapi musibah, karena keyakinannya bahwa sesuatu yang datang dari Allah selalu mengandung sisi positif. Sikap ini akan menghindarkan seseorang dari sikap berkeluh kesah, pesimis, depresi akibat musibah yang menimpanya.

Berkaca dari beberapa ayat di atas seharusnya kita mengubah cara pandang kita terhadap datangnya bencana, karena itu sangat menentukan strategi kita dalam melakukan mitigasi bencana, baik secara pribadi maupun bersama sama. Bencana atau musibah bukanlah azab Allah, tetapi bagian dari kasih sayang Allah kepada hambaNya agar manusia terhindar dari kerusakan yang lebih parah lagi. Bencana harus dipandang sebagai kondisi positif yang mampu menggerakkan manusia membangun peradabannya menjadi lebih baik. Saat terjadi bencana, itu adalah perintah untuk melakukan penelitian dan pengembangan keilmuan agar kita mampu hidup damai dengan alam semesta. Dari sinilah akan muncul ilmu-ilmu baru yang bermanfaat bagi kemudahan hidup manusia. Saat terjadi bencana, itu adalah perintah untuk melakukan perbaikan individu dan social, perintah merekatkan soliditas social, antara mereka yang terdampak bencana dengan mereka yang tidak terdampak, dengan satu alasan bahwa kita adalah manusia yang tercipta dari Tuhan yang sama, yaitu Allah swt.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler