Repurifikasi Niat dalam Bertindak
REPURIFIKASI NIAT DALAM BERTINDAK
Oleh; Nurdhin Baroroh, S.HI, M.SI
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ:إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Hadis di atas merupakan hadis pertama dalam Kitab HadisArba’in Nawawiyang mengajarkan betapa pentingnya nilai niat dalam mengawali dilakukannya sebuah amal perbuatan. Umat Islam biasanya mendengarkan hadis ini ketika memperingati pergantian tahun hijriyah, yakni dari Bulan Dzulhijjah ke Bulan Muharram. Hal ini dapat dilihat dari terdapatnya dua variasi katahijrahdalam hadis tersebut, yaitu: (1) dalam bentuk kata jadian ataumashdarterwujudkan dalam katahijratudan (2) dalam bentuk kata kerja ataufi’ldalam katahajara. Keberadaan kata-kata tersebut menjadi penanda ketepatan waktu disampaikannya, yaitu ketika peringatan tahun baru hijriyah. Terlebih lagi apabila kita melihatnya dari sisiAsbab al-Wurudyang berkaitan dengan perintah hijrah dari Kota Makkah ke Yatsrib.
Berdasarkan pada kandunganAsbab al-Wurudnya, hadis ini memberikan pelajaran berharga sekaligus menjadi teguran bernilai dari Rasulullah Muhammad SAW. Pelajaran berharga sekaligus teguran bernilai tersebut berkaitan dengan repurifikasi niat ketika menjalankan perintah Allah SWT, dalam hal ini adalah perintah hijrah dari Kota Makkah ke Yatsrib. Disebutkan bahwa barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapatkan balasan dari Allah dan RasulNya, sedangkan barang siapa yang berhijrah karena harta yang akan dicari dan wanita yang akan dituju, maka dia hanya akan mendapatkan apa yang dicari dan dituju tersebut (harta dan wanita).
Kesemuanya kembali kepada niat, karena niat merupakan salah satu rukun dan bahkan menjadi rukun pertama didirikannya bangunan perbuatan.Tidaklah heran apabila dalam setiap ibadah yang kita kerjakan – baca ibadahmahdhah– niat menempati posisi pertama dalam setiap penyebutan urutan tertib rukun pelaksanannya. Dalam pelaksanaan salat misalnya, ada pengucapan “Ushalli Fardha…” lalu dalam puasa biasanya secara berjama’ah ada pengucapan “Nawaitu Shauma Ghaddin…” dan lain sebagainya.
Persoalannya kemudian tidak berhenti pada setelah pelafalan di bibir atau ikrar dalam hati, atau semudah melafalkan dan mengikrarkan semata. Karena setelah ini ada serangkaian rukun-rukun lain yang menjadi keberlanjutan, kelengkapan dan kesempurnaan ibadah yang dilakukan. Jika kita meminjam bahasa ibadah salat, maka setelah niat kemudian dilanjutkan dengan melakukan takbir dalam gerakan yang dikenal denganTakbirat al-Ihram, yang kemudian dilanjutkan dengan rukun-rukun lainnya sampai dengan membaca bacaan salam di akhir ibadah salat. Dalam keadaan melanjutkan atau kelanjutan sampai rukun terakhir, yaitu membaca bacaan salam, terkadang godaan itu silih berganti, datang dan pergi, muncul dan lenyap, ada dan hilang. Semuanya merupakan gangguan-gangguan atau godaan-godaan yang terjadi selama dalam pelaksanaan sebuah ibadah.
Hal yang patut kita sadari adalah kemunculan godaan dan gangguan tersebut bisa dari dua sisi, yaitu sisi internal dalam diri kita dan sisi eksternal luar diri kita masing-masing.Dari sisi internal adalah dikarenakan masih munculnya rasa ingin menjadi objek untuk dilihat, didengar dan dinilai oleh orang lain. Ini adalah sebuah sisi kemanusiaan internal diri manusia yang tidak bisa dihindari. Sedangkan dari sisi eksternal luar diri kita adalah orang lain itu memiliki kebebasan melihat, mendengar dan menilai apa yang kita lakukan. Kata kerjadilihat, didengar dan dinilai merupakan kata kerja pasif yang menjadi lawan dari kata kerja aktifnya, maka keberadaan berpasangan ini merupakan sesuatu yang lazim terjadi dalam setiap ibadah yang dilakukan. Kenapa melihat? karena ada yang dilihat. Kenapa mendengar? karena ada yang didengar. Kenapa menilai? karena ada yang dinilai, begitu juga sebaliknya akan selalu ada seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.
Rasa ingin dilihat, didengar dan dinilai karena kebaikan yang dilakukan merupakan sifatinsaniyahyang dimiliki setiap manusia. Sahabat sekaliber Ali bin Abi Thalib ketika diuji oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk dinilai kualitas kekhusyukan ibadah salatnya, ternyata masih bisa terganggu dengan iming-iming hadiah sorban berwarna hijau yang dijanjikan oleh Rasulullah setelah salat tersebut. Ali bin Abi Thalib masih merasa ingin mendapatkan penghargaan dari penilaian yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Karenanya dalam setiap perbuatan yang kita lakukanakan selalu ada gangguan yang kapan saja datang silih berganti, meskipun secara lafal dan ikrar telah kita sematkan ucapan “Nawaitu Lillahi Ta’ala”.
Demikian juga, meskipun sedemikian berat beban tanggung jawab perbuatan yang kita kerjakan, termasuk di dalamnya adalah ibadah, niat tetap menduduki peringkat pertama dalam urut tertib rincian dari awal sampai akhir terselesaikannya pekerjaan ataupun ibadah yang harus kita lakukan. Kewajiban kita adalah mengawali pekerjaan, melanjutkan pekerjaan dan menyelesaikan pekerjaan dengan berdasar niat kepada Allah SWT, serta senantiasa memohon dan meminta agar terlepas dari gangguan internal dan eksternal yang merusak konsepsi dasar dari “Nawaitu Lillahi Ta’ala”
Wallahu A’lam bi Ash-Shawab.