K3 Puasa: Kesehatan, Keselamatan, dan Kesiapsiagaan
K3 PUASA: KESEHATAN, KESELAMATAN, DAN KESIAPSIAGAAN
HM. Sukaelan, SH., M. Kes.
Mahasiswa Program Doktor (S3) IlmuSyari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan hubungan puasa dengan kesehatan:
- "Shumu Tashihhu;puasalahniscaya kamu akansehat" (HR. al-Thabrani).
- "Perut adalah rumah penyakit, dan pengaturan makanan adalah obat utamanya." (Sahih Muslim).
Secara periwayatan, hadis nomor (1) tergolong lemah. Namun secara substansi, hadis ini tidak bertentangan dengan manfaat ibadah, yaitu meraih kesehatan spiritual dan fisik. Makna hadis tersebut juga tidak bertentangan dengan berbagai riset kesehatan yang menyimpulkan bahwa ibadah puasa dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau imunitas. Kalimat “niscaya kalian akan sehat” menjelaskan jaminan kesehatan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa dengan baik. Hadis ini berbicara manfaat dan tidak berbicara tentang proses. Hal ini memunculkan pertanyaan, puasa seperti apa yang menghasilkan kesehatan?
Puasa dan Kesehatan
Dari sisi sanad, hadis di atas dihukumi dhaif atau lemah. Namun sejumlah ulama menyatakan bahwa maknanya adalah benar. Puasa memiliki faedah kesehatan yang sangat banyak. Ini diakui oleh banyak ahli kesehatan; baik fisik maupun psikhis. Jika seseorang berpuasa dengan cara yang benar dan dia tidak memiliki homorbit (penyakit bawaan) yang berat dan kondisi yang berbahaya ketika puasa, maka ia akan mendapatkan manfaat kesehatan yang luar biasa.
Keumuman faedah duniawi ditunjukkan oleh keumuman makna “khairiyah” (kebaikan) dalam puasa (shiyam). Hal ini menunjukkan bahwa manfaat puasa tidak terbatas kepada ukhrawi saja.
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan jika kamu berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Hadis Rasulullahyangdiriwayatkan Abu Umamah r.a juga menguatkan hal ini. Saat itu Abu Umamah datang kepada Rasulullah dan berkata “Ya Rasulallah, perintahkan kepadaku untuk beramal. Rasulullah menjawab,
عليك بالصوم؛ فإنه لا عدل له
“Hendaknya kamu berpuasa, karena tidak ada amal yang bisa menandinginya.”
Prinsip Keseimbangan
Memang, berpuasa dapat mempunyai pengaruh yang baik bagi sistem imun, tetapi dengan beberapa catatan. Antara lain, puasa dilakukan dengan memperhatikan pola makan seimbang ketika berbuka dan sahur, istirahat yang cukup, tidak stres, dan cukup olah raga. Saat puasa, konsumsi makanan dengan nutrisi seimbang sangat diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh.
Apa yang dimaksud dengan gizi seimbang? Secara umum, gizi seimbang adalah susunan asupan sehari-hari yang jenis dan jumlah zat gizinya sesuai dengan kebutuhan tubuh. Prinsip gizi seimbang terdiri dari empat pilar, yang pada dasarnya merupakan upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk, dengan mengontrol berat badan secara teratur. Keempat pilar tersebut adalah:
1. Mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.
2. Membiasakan perilaku hidup bersih.
3. Melakukan aktivitas fisik (minimal 3x /minggu @ 30 menit) atau 30 menit per hari.
4. memantau dan mempertahankan berat badan normal.
Untuk menu berbuka puasa sebaiknya tidak menyantap makanan susah dicerna seperti nasi, karena lambung sudah beristirahat selama 12 jam sehingga sebaiknya mengkonsumsi makanan yang mudah dicerna. Berbuka puasa sebaiknya dengan beberapa butir kurma (atau makanan yang manis) dan air putih terlebih dahulu, lalu Salat Maghrib, dan setelah itu menikmati nasi beserta lauk pauk yang sehat dan bernutrisi, sebagaimana sunnah Rasulullah SAW.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air“ (HR Abu Dawud No. 2356)
Tak dapat disangkal lagi bahwa berdasarkan penelitian ahli kesehatan, sebagian besar penyakit yang terjadi dalam tubuh manusia, mulaidari kolesterol, tekanan darah tinggi, usus buntu, diabestis atau gula, ginjal, masalah paru-paru, hingga kanker perenggut maut, disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi. Belakangan kemudian ditemukan bahwa ternyata berbagai penyakit fisik manusia juga mayoritasnya, lebih 80%, disebabkan oleh faktor kejiwaan. Penyakit-penyakit yang disebutkan di atas, dari tekanan darah tinggi hingga ke serangan jantung, pada galibnya disebabkan oleh faktor psikis (kejiwaan) manusia. Tidak mengherankan, sebuah rumah sakit khusus terapi puasa didirikan oleh seorang veteran perang dunia II di Jerman, di penghujung Perang dunia II. Rumah sakit itu kini telah memasuki tiga generasi. Dikisahkan bahwa rumah sakit ini didirikan oleh seorang kakek yang ketika itu menderita kanker. Semua dokter angkat tangan, hingga suatu hari ada yang menasehatinya agar menjalankan puasa. Dia melakukannya dan dengan izin Allah dia sembuh. Setelah sembuh itulah dia mendirikan rumah sakit tersebut, yang hingga saat ini masih beroperasi di bawah pimpinan cucu sang pendiri. Dari semua manfaat puasa bagi kesehatan itu, saya kira kemanfatannya lebih dominan di aspek non fisik. Menahan makan itu bermanfaat, tetapi sumber kesehatan terbesar ada pada kemampuan manusia dalam mengelolah jiwa dan batinnya.
PuasaMeningkatkan Imunitas
Para ahli kesehatan tidak meragukan manfaat ibadah puasa dalam meningkatan sistem kekebalan tubuh atau imunitas. Beberapa penelitian mengungkapkan manfaat puasa bagi kesehatan, antara lain:
1.Tubuh mendapatkan fase istirahat usus dan perut serta membantu detoksifikasi (pengeluaran racun dari dalam tubuh).
2.Puasa juga bisa mengurangi kadar lemak tubuh. Kelebihan lemak tubuh bisa merusak keseimbangan sistem kekebalan tubuh manusia. Lemak yang banyak akan memicu produksi sel, yang menyebabkan peradangan pada organ tubuh, memicu munculnya penyakit pembuluh darah dan masalah kesehatan lainnya
3.Rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh untuk memproduksi sel darah putih baru untuk melawan infeksi. Para peneliti menyebutkan bahwa puasa berfungsi sebagai 'pembalik sakelar regeneratif' yang mendorong sel induk menciptakan sel darah putih baru. Penciptaan sel darah putih baru inilah, yang menjadi dasar regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh.
4.Puasa bermanfaat dalam merestart sistem kerja tubuh. Kondisi ini membantu menciptakan lingkungan yang sehat bagi tubuh untuk meregulasi hormon. Mereka yang makan setiap tiga sampai empat jam sekali tidak sempat mengalami lapar, sehingga tidak merasakan kemampuan tubuh untuk menyampaikan sinyal lapar. Ketika asupan makanan untuk tubuh dihentikan selama 12 jam, tubuh dapat lebih fokus pada kemampuannya untuk meregenerasi sel.
Oleh karena itu, marilah kita menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan, serta dibarengi dengan pola hidup sehat bersih dan pola makan yang seimbang agar puasa dapat meningkatkan imunitas jasmani dan rohani. والله عالم