Ramadhan Bulan Pengendalian Diri
RAMADHAN: BULAN PENGENDALIAN DIRI
Oleh: Dr. Ali Sodiqin, M.Ag
Kita sudah berada di penghujung bulan Sya’ban dan itu arrtinya kita akan segera bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, bulan yang istimewa, karena di dalamnya Allah mewajibkan kita berpuasa sembari menurunkan rahmat, maghfirah dan itqun minannar. Keistimewaan tersebut tidak terdapat di bulan selain Ramadhan, sehingga kita harus menyiapkan diri, baik lahir maupun bathin kita untuk mendapatkan keistimewaan tersebut. Oleh karena itu kita perlu memahami apa yang menjadi tujuan disyariatkannya bulan Ramadhan dan bagaimana seharusnya kita memperlakukan bulan Ramadhan.
Ayat yang menjadi dasar pelaksanaan puasa ramadhan adalah surat Albaqarah 183:
يا ايها الذين امنوا كتب عليكم الصيا م كما كتب على الذين من قباكم لعلكم تتقون
“hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Ayat ini menjelaskan hukum serta alasan mengapa Allah mensyariatkan ibadah puasa Ramadahan. Hukum puasa Ramadhan adalah wajib, sebagaimana ditunjukkan dengan lafazkutiba. Kewajiban berpuasa ini berlaku bagi mereka yang sudah menjadi mukallaf, yaitu yang memenuhi kriteria baligh dan berakal. Oleh karena itu anak kecil dan orang gila tidak wajib berpuasa.
Ibadah puasa adalah ibadah universal, hal ini ditunjukkan dalam kalimatkama kutiba alalladzina min qablikum, bahwa puasa sudah dipraktikkan oleh umat umat terdahulu. Universalitas ibadah puasa menunjukkan bahwa ibadah ini memiliki kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, tidak hanya umat Islam. Oleh karena itu puasa juga dikenal dalam ajaran berbagai agama selain Islam, meskipun dengan tata cara dan ketentuan yang berbeda.
Disisi lain universalitas puasa juga bisa dimaknai bahwa ibadah ini sangat manusiawi, ditentukan berdasarkan kekuatan manusia, sehingga pelaksanaannya tidak memberatkan tetapi justru memiliki manfaat yang besar, yaitu untuk kesehatan lahir dan bathin. Namun demikian, Allah tetap memberikan keringanan atau rukhsah bagi mereka yang berada dalam kondisi tertentu yang berpengaruh terhadap pelaksanaan ibadah puasa. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikutnya (Al Baqarah 184):
اياما معدودات فمن كان منكم مريضا او على سفر فعدة من ايام اخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خيرله وان تصوموا خيرلكم ان كنتم تعلمون
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang ditinggalkan) pada hari hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Tujuan diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai derajat ketaqwaan, sebagaimana disebutkan di akhir ayat,la’allakum tattaquun. Taqwa adalah tingkatan tertinggi dalam beragama, sehingga mereka yang dapat mencapai derajat ini mendapatkan kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Tujuan inilah yang seharusnya dijadikan petunjuk arah kemana ibadah puasa Ramadhan kita arahkan, sekaligus juga menjadi standar apakah puasa kita berhasil mencapai tujuan ataukah tidak.
Ibadah puasa berdasarkan lafaznya memiliki dua makna, yaitu makna lahir dan makna bathin. Makna lahirnya ditunjukkan dengan katashiyam, yang berarti menahan diri secara lahiriyah, yaitu menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan hubungan seksual dari fajar hingga terbenamnya matahari. Sementara makna bathinnya ditunjukkan dengan katashaum, yang artinya diam atauashshumtu, menahan diri dari berkata yang tidak pantas. Menurut Syaikh Abdul Qadir Jaelani puasa yang kita lakukan haruslah mampu mengharmonikan kondisi lahir dan bathin, dengan mengosongkan perut dari makanan dan minuman, mengosongkan syahwat dan lisan dari hal hal yang tercela, serta mengosongkan hati dari selain Allah.
Untuk mencapai tujuan ibadah puasa, diperlukan tahapan tahapan sebagai berikut:
Pertama,puasa yang kita lakukan harus mampu mengendalikan tiga dasar kebutuhan hidup, yaitu makan, minum dan hubungan seksual. Selama berpuasa kebutuhan tersebut tetap dapat dipenuhi namun harus dikendalikan. Ketidakmampuan mengendalikan tiga kebutuhan tersebut akan menjerumuskan manusia pada sifat kebinatangan sekaligus menjadi penutup jalan menuju Allah. Nafsu perut dan nafsu kemaluan merupakan tahapan pengendalian yang paling dasar dari puasa, dan jika kita mampu mengendalikannya maka kita akan mendapatkan kesehatan, sebagaimana sabda Nabi,shumuu tasihhuu.
Kedua, puasa harus mampu mengendalikan atau menjaga panca indera kita, terutama lisan. Menurut Al Ghazali lisan merupakan anggota tubuh terbaik dan mulia setelah hati, namun lisan juga menyimpan marabahaya yang sangat besar. Nabi saw mengingatkan dalam sabdanya: “tidak akan lurus keimanan seorang hamba sehingga lurus pula hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus pula lidahnya. Seorang hamba tidak akan masuk surga selagi tetangganya belum aman dari kejahatan lidahnya (muttafaq alaih)”.
Ketiga,berpuasa harus ikhlas, yaitu menikmati bagaimana rasanya lapar dan dahaga juga menikmati untuk diam (menjaga lisan) dan tegar. Ibadah puasa memang berdampak pada kelelahan fisik, menghindari seks yang halal, terasa berat untuk bersikap diam dan berbicara yang tidak perlu. Namun kita harus bisa menikmati semua kondisi tersebut dan tidak berharap apapun kecuali ridha Allah. Inilah yang dimaksud berpuasa dengan ikhlas. Di saat kita mampu menghidangkan makanan, minuman, halal berhubungan seksual, tetapi kita harus menahannya dengan ikhlas, menikmatinya dengan lapang dada, seraya menguatkan harapan mendapatkan rahmat dan ampunan Allah.
Keempat,puasa harus mampu menjadi sarana memelihara hati untuk tidak tertarik pada kesenangan dunia, dan tidak mengisi hati kecuali hanya Allah. Inilah tahapan tertinggi dalam berpuasa. Pencapaian tahapan inilah yang mengantarkan seorang hamba pada derajat muttaqin. Orang yang berpuasa akan menyibukkan dirinya untuk sebanyak banyaknya mendapatkan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Oleh karena itu dia akan memaksimalkan bulan ramadhan untuk memperbanyak ibadah dan amal salih dan mengurangi kesibukan dunia. Kalaupun dia melakukan pekerjaan dunia niat dan tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah menjadi tujuan dari setiap perbuatan lahir batinnya. Nafsu duniawi harus kita kendalikan agar kita mampu mencapai derajat kemuliaan sebagai orang yang bertaqwa.
Semoga Allah swt memberikan kita kesempatan untuk berjumpa dengan bulan ramadhan dan memberikan kita kekuatan untuk menjalani puasa di bulan Ramadhan.