Ramadhan adalah Bulan Peralihan
RAMADHAN ADALAH BULAN PERALIHAN
Oleh: Nurdhin Baroroh, S.H.I., M.S.I.
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Syariah, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Secara aspek kebahasaan dengan merujuk pada Kamus Bahasa ArabAl-Munjid fi Al-Lughah wa Al-A’laam,asal kata Ramadhan terambil dari kata kerja dasar dalam Bahasa Arab yaitu رمض – يرمض, yangberarti dalam keadaan yang sangat panas. Dari kata kerja dasar ini kemudian muncullah dua kata benda yang memiliki keberbedaan arti serta makna yaitu,pertamakata الرمض bermakna keadaan yang sangat panas/terik, dankeduakata الرميض yang bermakna akhir musim panas yang kemudian beralih atau berubah ke musim hujan – biasanya ditandai dengan bergumulnya awan yang kemudian diikuti dengan turunnya hujan.
Penelusuran dari sisi kebahasaan tersebut memberikan petunjuk bahwa bulan kesembilan dalam Tahun Hijriyah ini merupakan bulan peralihan. Peralihan dari sebuah keadaan yang sangat panas/terik menyengat kepada keadaan bergumulnya awan yang kemudian dilanjutkan dengan datangnya hujan. Rasa panas terik serta menyengat yang beralih kepada hujan, tidak saja menjadi sebuah siklus alamiyah perjalanan waktu sebuah musim ke musim lain yang terjadi begitu saja dan tidak pula hanya sebagai sunnatullah yang sudah berjalan sekian tahun, akan tetapi bahkan menjadi siklus perjalanan yang dinanti kehadirannya, ditunggu kemunculannya dan diharapkan kedatangannya. Maka tidak heran kemudian apabila 60 hari atau 2 bulan sebelum Ramadhan tiba, kaum muslimin diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sebuah do’a yang senantiasa dibaca dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Do’a tersebut adalah “Allahumma Baarik Lana fi Rajaba wa Sya’baaa wa Balighnaa Ramadhaana”.
Peralihan musim yang terambil dari aspek kebahasaan tersebut, lantas berimbas serta berpengaruh kepada peralihan perilaku lahiriyah kaum muslimin menjelang kedatangan bulan ini, semua berlomba-lomba menunjukkan betapa bulan ini adalah bulan yang dinanti. Tampilan yang kemudian muncul adalah diadakannya kerja bakti bersama, tempat ibadah dipercantik, pemasangan umbul-umbul beraneka warna, spanduk-spanduk kecil bernuansa penyambutan Ramadhan, flyer-flyer sederhana bernada ajakan meningkatkan amal ibadah dan lain sebagainya. Ramadhan adalah sosok tamu agung yang ditunggu, karena kedatangannya adalah untuk menemuimasyarakat.
Selain mampu memberikan pengaruh kepada peralihan perilaku lahiriyah sebagaimana di atas, maka sejatinya bulan ini juga mengandung makna peralihan yang bersifat bathiniyyah serta bernuansakan misi mulia. Untuk apa kemudian Rasulullah mengajarkan doa mengharapkan keberkahan di Bulan Rajab, Bulan Sya’ban serta mengharapkan tersampaikannya usia di Bulan Ramadhan? Untuk apa bulan ini menjadi bulan diturunkannya Kitab Suci Al-Qur’an? Untuk apa di bulan ini dianugerahkan malam seribu bulan Lailatul Qadar? Untuk apa kemudian La’allakum Tattaqun menjadi The Final Result and The Final Mark dari Q.S. Al-Baqarah (2): 183 ?
Akumulasi dari manifestasi munculnya peralihan lahiriyah dan bathiniyyah ini mengerucut pada pertanyaan sederhana: Apa yang menjadi tugas kita sebagai orang Islam? Secara garis besar hal tersebut berkaitan dengan tugas kita yang sebenarnya telah Allah SWT sebutkan dalam dua redaksi kalimat yaitu: Ya Ayyuhalladziina Aamanuu dan Wa ‘Amilus ash-Shaalihaati. Bahkan Allah SWT tidak sekedar menyebutkan, akan tetapi juga mengulanginya dalam serangkaian pengulangan yang berjumlah puluhan kali, dengan dua bentuk variasi yaitu menggabungkan langsung dalam satu ayat dan atau memisahkannya dalam ayat yang lain.
Kandungan nilai vertikal aspek dari keimanan dan nilai horizontal aspek dari amal salih adalah misi utama bulan ini. Bulan ini seperti lembaga pendidikan, lembaga kursus, balai latihan kerja, pelatihan-pelatihan, sekolah dan maupun perguruan tinggi. Semua lembaga memiliki kurikulum pendidikan dan pengajaran yang misinya tidak lain adalah mengajarkan serangkaian ilmu pengetahuan dengan konsentrasinya masing-masing.Goalnya adalah mengubah dan menjadikan peserta didik memiliki tampilan berbeda atau keberalihan dari sebelum menjadi peserta didik yang tidak memiliki kemampuan atau keahlian di bidangnya, menjadi lulusan/alumni yang memiliki kemampan serta keahlian yang menjadi konsentrasi pendidikannya. Pun demikian yang terjadi dengan Ramadhan, memiliki serangkaian aktifitas bernuansa pendidikan dan pengajaran dalam rangka implementasi perwujudan dari keseimbangan kurikulum yang bernilai vertikal dan horizontal.
Maka keberadaan Ramadhan kali ini harus bernuansakan perubahan, sehingga setelah Ramadhan selesai maka perubahan yang bernuansakan Ramadhan tetap selalu bisa mengitari dalama 11 bulan setelahnya. Keberadaan Ramadhan sekarang ini harus bernuansakan peralihan, sehingga setelah Ramadhan berlalu maka peralihan yang bernuansakanRamadhan bisa mengiringi untuk 11 bulan berikutnya.