Mengevaluasi Isra' dan Mikraj Kita

MENGEVALUASI ISRA’ DAN MIKRAJ KITA

Dr. Ali Sodiqin, M.Ag

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian adalah Isra’ mikraj, yaitu ketika Allah memperjalankan Nabi Muhammad saw dari masjidil haram di Mekkah hingga masjidil aqsa di Palestina dalam waktu semalam. Sedangkan mikraj adalah naiknya Nabi dari masjidil aqsa ke sidratul muntaha untuk menghadap Allah swt dan menerima wahyu tentang perintah salat lima waktu. Hal ini tergambar dalam QS Al Isra ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha-Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha-Mendengar lagi Maha-Mengetahui.”

Meskipun peristiwa ini telah berlangsung puluhan abad yang lalu, tetapi setiap peristiwa kenabian adalah pelajaran seumur hidup bagi setiap muslim. Oleh karena itu kita harus selalu mengingatnya dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut sebagai bahan untuk mengevaluasi, memperbaiki dan memperbaharui kehidupan kita.

Isra dapat menjadi ibrah atau gambaran perjalanan kehidupan kita saat ini. Sedangkan mikraj dapat menjadi symbol naiknya derajat kemanusiaan kita menjadi makhluk yang taat kepada-Nya. Jika saat ini kita sudah berumur 50 tahun misalnya, itu berarti perjalanan kehidupan yang telah kita lalui sudah sejauh itu, selama itu dan sepanjang itu. Maka pertanyaan yang muncul adalah, apakah isra atau perjalanan hidup kita sudah menuju mikraj. Apakah semua ucapan, perbuatan, dan sikap kita selama puluhan tahun ini berhasil mengantarkan kita menjadi hamba yang taat dengan Allah. Ataukah malah sebaliknya, bertambahnya usia kita, bertambahnya jarak perjalanan kita justru menjauhkan kita dari ajaran Allah. Apakah perjalanan kehidupan kita berada pada jalan yang benar, menuju kepada tujuan yang benar. Semua pertanyaan itu hanya kita dan Allah yang tahu. Apakah kita termasuk hamba yang taat, karena berada di jalan yang benar, atau termasuk hamba yang maksiat, karena selalu berada di jalan yang sesat. Oleh karena itu, momen isra mikraj sekarang ini, mari kita gunakan untuk merenungkan nasib perjalanan kita, mengevaluasi langkah-langkah kita selama ini, agar kita dapat segera melakukan perubahan, memperbaiki jalan hidup kita menjadi lebih baik.

Sebagai muslim, hal yang pertama yang harus kita yakini adalah kebenaran ajaran agama kita. Islam adalah agama yang suci, karena mengantarkan pemeluknya ke dalam kesucian atau fitrah. Islam adalah agama yang lurus, karena ajaran-ajarannya memberikan panduan jalan kehidupan yang benar. Maka, kita harus yakin, harus konsekuen dalam berislam, karena itulah cara meluruskan isra kita. Dalam QS Ar-Rum ayat 30 Allah berfirman,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚفِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّم ُوَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Ayat ini dengan jelas memerintahkan kita untuk berjalan secara tegak lurus, bermikraj kepada Allah dengan cara melaksanakan ajaran Islam dan mempraktikannya dalam keseluruhan perjalanan hidup kita. Dan jika kita konsekuen menjalaninya, maka hasil mikraj kita adalah menjadi makhluk yang fitrah, yang suci, sehingga mudah mendekatkan diri kepada Allah.

Orang-orang yang istiqamah di jalan Islam, maka mereka menjadi hamba yang dikasihi dan dicintai Allah. Hidup mereka focus, melakukan semua aktivitasnya sebagai bentuk ketaatan, semua ucapan dan perbuatannya diniatkan sebagai ibadah, sehingga yang muncul adalah pribadi yang ikhlas. Allah menggambarkan orang-orang ini dalam firmanNya, QS Al Furqan 63:

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِين َيَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”

Perjalanan hidup kita tidaklah selalu mulus, selalu ada gangguan, tantangan dan hambatan yang dapat mengganggu ketaatan kita. Dan gangguan yang paling besar adalah harta, anak, dan keluarga. Seringkali tanpa kita sadari ketiga hal tersebut justru membuat jalan ketaatan kita berubah menjadi jalan kemaksiatan. Allah sudah mengingatkan kita dalam firmanNya di QS Al Munafiqun ayat 9:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu darimengingat Allah SWT. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.”

Kecintaan terhadap harta dapat membuat kita memiliki sifat mubkhilah, yaitu sifat seseorang yang bakhil terhadap harta yang dimilikinya serta mendorong untuk menyimpan hartanya dan enggan untuk menginfakkan hartanya pada jalan Allah SWT kerana takut harta tersebut tidak mencukupi untuk diberikan kepada anak anaknya.

Kecintaan kepada anak dan keluarga dapat menyebabkan kita memiliki sifat mujbinah, yaitu sifat yang menjadikan seseorang menjadi pengecut dalam menegakkan kebenaran dan takut akan keburukan yang menimpa dirinya dan anak keturunannya. Keinginan untuk melindungi anak dan keluarga seringkali menjatuhkan seseorang untuk menyembunyikan kebenaran.

Kesibukan mengurus harta dan juga mengurus urusan anak dan keluarga juga dapat menyebabkan seseorang bersifat mujhilah, yaitu sifat malas untuk menuntut ilmu, sehingga jatuh dalam kebodohan dan kemalasan. Harta dan keluarganya telah menghabiskan waktunya sehinga dia melupakan kewajibannya kepada Allah dan sesamanya.

Meluruskan isra atau perjalanan hidup kita agar menuju ketaatan kepada Allah dapat dilakukan dengan cara menjadi hamba yang istiqamah dalam berislam. Harta, anak dan keluarga harus kita jadikan sebagai modal sekaligus pendukung, dengan menjadikannya sebagai sarana menuju ketaatan. Harta harus kita fungsikan menjadi amal jariyah, anak dan keluarga harus kita jadikan sebagai hamba yang salih, yang siap mendoakan kita saat kita sudah menghadap kepadaNya. Semoga Allah swt memberikan kita kekuatan agar dapat mengelola harta, anak dan keluarga sebagai sarana menuju mikraj, menuju ridha Allah swt.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler